Hari hari kita pikirkan dan bicarakan tentang kepentingan dunia, mari kita luangkan sedikit waktu untuk pikirkan dan bicarakan tentang perkara agama, tentang kebesaran Alloh, satu satunya bekal kita nanti pulang ke "Kampung Akhirat" dan untuk apa sebenarnya kita sebagai manusia Alloh SWT ciptakan di dunia ini...

Sunday, December 4, 2011

Melepas Kedok Jamaah Tabligh VI



APA YANG DIBUAT JEMAAH TABLIGH KETIKA MEREKA KELUAR DI JALAN ALLAH

Mereka menghidupkan amalan Nabi secara menyeluruh yakni Dakwah, Taklim wa Ta’allum, dan Tazkiyyah. Sesuai ayat :

Ya Tuhan kami, utuslah seorang Rasul ditengah-tengah mereka yang berasal dari diri mereka sendiri (yang tugasnya) membacakan ayat-ayat Engkau (DAKWAH), mengajarkan kepada mereka ALKITAB dan ALHIKMAH (Taklim wa Ta’allum) dan Tazkiyyah (Dzikir Ibadah dan Khidmat), Sesungguhnya Engkau Maha Gagah dan Maha Bijaksana (AL Baqarah : 129)
Doa di atas adalah doa Nabi Ibrahim ketika selesai membangun Ka’bah sehingga mereka katakan : Inilah amalan masjid yang diinginkan Ibrahim as.

Mereka membagi waktu khuruj dengan tertib sebagai berikut :

4 Jam untuk Dakwah, yang terdiri dari :

1. Jaulah Umumi, yakni jumpa seluruh orang kampung
2. Jaulah Khususi, yakni jumpa orang perorang sebagaimana kedudukan orang yang didatangi, misalnya : ulama atau umara.
3. Jaulah Taklimi, yakni mereka berkeliling untuk ajak orang kampung duduk di majlis taklim fadhilah amal yang mereka buat.
4. Jaulah Tasykili, yakni mereka datang ke tempat orang yang ada simpati setelah mendengar bayan-bayan (penjelasan) mereka.
5. Jaulah Ushuli, yakni mereka datang kepada orang yang niat keluar bersamaan dengan kepindahan mereka ke kampung lain.

4 Jam mereka gunakan untuk Taklim, yang terdiri dari :

1. Taklim Kitabi
2. Taklim Halaqah Al Quran
3. Taklim Enam Sifat
4. Mudzakarah Adab-Adab Sunah Sehari-hari
5. Taklim Infiradi, yakni membaca buku yang mereka bawa di luar amalan ijtima’i

4 Jam Mereka gunakan untuk Dzikir Ibadah, yang terdiri dari :

1. Sholat berjamaah
2. Sholat-sholat sunnah
3. Dzikir Pagi Petang
4. Sholat Tahajud dan Doa Hidayah dimalam hari
5. Tilawah Al Quran
6. Doa-doa masnunah

4 Jam mereka gunakan untuk Khidmat, yang terdiri dari :

1. Khidmat kepada Amir
2. Khidmat kepada Jemaah
3. Khidmat kepada orang kampung
4. Khidmat kepada diri sendiri

Semuanya menyita waktu 16 Jam. Sedangkan sisanya digunakan 6 jam untuk tidur dan 2 jam untuk MCK dan keperluan pribadi lainnya.

Apabila mereka keluar ikut tertib dengan iktu kepada amalan ijtima’I secara full, maka biasanya dengan izin Allah mereka mendapat Ishlah setelah pulang. Bisa jaga shalat berjamaah dan muamalah dan mu’asyarahnya menjadi lebih baik.
Kegagalan orang keluar di jalan Allah disebabkan mereka tidak ikut tertib sehingga tak ada Ishlah dan setelah itu sulit diperbaiki lagi dan jadi HIJAB bagi manusia lain untuk dapat Hidayah.

3 Perkara yang menyebabkan seorang sukses keluar di jalan Allah :

1. Keluar dengan mentaati Amir
2. Keluar dengan tertib di dalam Ijtimaiyyat
3. Keluar semata karena Allah SWT

Apabila orang keluar dengan 3 hal tersebut maka Allah akan beri kepada mereka 2 perkara :

1. Dicabut sifat binatang dari diri mereka
2. Doa mereka akan dikabulkan sebagaimana doa Nabi-Nabi.

Telah banyak bukti perubahan yang terjadi pada orang yang keluar di jalan Allah, mereka yang sebelumnya orang yang rusak agamanya atau sampah masyarakat. Preman, Koruptor, Bandar Narkoba, Artist Pejabat, Anak Menteri, Polisi, Tentara, dsb yang sebelumnya jauh dari agama, mereka kini menjadi Pendakwah, bukan hanya diri mereka baik tapi mereka juga fikir orang lain untuk menjadi baik.

Sehingga ketika Amir mereka Syaikh Maulana Muhammad Yusuf Al Kandahlawi Rah A dikritik orang katanya Jemaah Tabligh hanya Amar Makruf saja tak ada Nahi mungkar. Maka Beliau katakan : Hadits yang menyebutkan : “Jika kamu lihat kemungkaran maka ‘Fal Yughayyir’ yakni rubahlah bukan hancurkanlah maka lihatlah oleh kalian !! Perubahan hidup mereka dari maksiat kepada taat.

ENAM SIFAT JEMAAH TABLIGH

Yang menarik dari Enam Sifat Jemaah Tabligh merupakan ciri kas mereka yang tidak dimiliki oleh Harokah lain. Bahkan Enam Sifat seperti kode untuk membedakan mereka dengan yang lain. Untuk masuk Negara Israel misalnya kebanyakan gerakan Islam tidak boleh tetapi Jemaah Tabligh tak bisa dibendung kehadirannya di Israel karena mereka gunakan Jemaah yang berasal dari negeri yang ada hubungan Diplomatik dengan Israel yakni Singpura, Australia, dsb.

Untuk bedakan Jemaah Tabligh atau bukan maka orang Israel uji mereka di Bandara dan Perbatasan dengan SIX POINT / ENAM SIFAT.

Yang menakjubkan banyak ahli Jemaah mereka yang orang-orang Arab, Yordan, Yaman yang sebelumnya menganut WAHABI yakni yang tak mau menerima sesuatu yang tidak ada tuntunan dari AL Quran dan As Sunnah, ketika salah seorang ditanya kenapa terima Enam Sifat ? Mereka katakan bahwa Enam Sifat ada dalam Surat Thaha yakni pesan Allah SWT kepada Nabi Musa as sebelum dakwah kepada Fir’aun, Samiri, Hamman, Baslam, Qorun.

1. Sesungguhnya Aku Allah tiada Tuhan selain Aku maka sembahlah Aku
2. Dirikan Sholat untuk iangat Aku
3. Pergilah kamu dan saudaramu (Harun as) dengan ayat-ayat Ku dan jangan lupa untuk ingat Aku.
4. Berkatalah kepada Firaun dengan lemah lembut
5. Aku pilih engkau untuk diri Ku
6. Pergilah kamu kepada Firaun karena dia telah melampaui batas

ENAM SIFAT

1. Yakin terhadap hakikat kalimah La ilaha illa Allah
2. Shalat Khusyu’ wal Khudu’
3. Ilmu ma’a Dzikir
4. Ikramul Muslimin (Akhlaq terhadap orang Islam dan Adil terhadap orang Kafir seperti ucapan lemah lembut kepada Firaun)
5. Tashhiihunniyah (Amal Semata karena Allah)
6. Dakwah dan Tabligh

Lihatlah tuan-tuan point enam sifat di atas adakah yang ikhtilaf dengan Al Quran dan Hadits.

JEMAAH TABLIGH SELESAIKAN MASALAH UMMAT DENGAN AMALAN MASJID

Dari Surat Al Baqarah 129 terlihat doa Nabi Ibrahim di Ka’bah / di masjid memohon amal Nabi yakni : Dakwah, Taklim, dan Tazkiyyah. Hal ini untuk menghilangkan panyakit asal manusia yakni :

1. Takut kepada selain Allah karena ketika manusia hadir di dunia langsung berhubungan dengan kekuatan makhluk, sedangkan Allah menyempurnakan diri untuk uiji hambaNya.
2. Hidup dengan cara kebiasaan sendiri, karena untuk atasi keadaan hidup yang keras mereka usaha bagaimana bisa bertahan sehingga ketika berhasil maka diyakini sebagai cara hidup yang baik (adat).
3. Memakai hukum selain yang diturunkan Allah SWT, karena berhasil mengatasi persoalan hidup, maka dibuatlah menjadi suatu undang-undang.

Amalan Nabi berfungsi untuk :

1. DAKWAH untuk memasukkan Iman Yakin kepada manusia sehingga keluar kebesaran makhluk dan masuk kebesaran Allah SWT.
2. TAKLIM untuk mengenalkan cara hidup anbiyasehingga merubah cara hidup adat menjadi cara hidup secara Sunnah.
3. TAZKIYAH mensucikan kehidupan manusia dari dosa ketika jumpa dengan Allah. Di zaman Nabi penzina, pencuri, pemabuk datang kepada hukum Islam untuk minta disucikan. Sehingga hukum tegak bukan cari pelaku maksiat tetapi orang datang kepada hukum untuk tazkiyah.

Syaikh Ilyas Rah A katakan amalan masjid / amalan Nabi yakni :

1. Dakwah
2. Taklim wa Ta’allum
3. Dzikir Ibadah
4. Khidmat
4 Penyakit yang menjangkiti Umat :

1. Hubbuddunya (Cinta Dunia)
2. Bodoh dalam agama (Tidak tahu hukum)
3. Maksiat kepada Allah Ijtima’i (bersama-sama)
4. Senang berpecah belah.

Cara Pengobatannya :

1. Jadikan dakwah sebagai maksud hidup umat
2. Taklim wa Ta’allum
3. Dzikir Ibadah (Sholat mencegah Fahsya dan Mungkar)
4. Khidmat kepada orang Islam

PROGRAM JAULAH

Julah adalah tulang punggung Dakwah,karena semua anbiya’ mengadakan jaulah / keliling jumpa manusia. Jaulah merupakan kumpulan usaha / amal Nabi yang dikerjakan dalam waktu bersamaan, yakni : Dakwah, Taklim, Dzikir Ibadah, dan Khidmat.
Jaulah dibagi menjadi 2 bagian yakni : Di luar dan di dalam.

Di dalam masjid hidupkan amalan : Taklim dengan cara taqrir (menulang-ulang pentingnya amal agama dan kerja agama), Dzikir dikerjakan oleh seorang atau lebih mudzakir, dan khidmat dikerjakan oleh seorang atau lebih istiqbal.
Bagian yang di luar : Dalam surat Yasin diceritakan tentang jaulah Habb Annajar dimana beliau disyahidkan saat buat jaulah.

Tatkala Kami utus dua orang (Mutakallim dan Amir) QS Yasin : 14
Maka Kami kuatkan dengan yang ketiga (makmur) QS Yasin : 14
Dan datanglah seseorang dari pinggiran kota dengan tergesa-gesa (Dalil) QS Yasin : 20
Dengan dalil yang kuat serta adab-adab yang tinggi maka jaulah merupakan asbab hidayah bagi manusia, banyak orang yang terkesan dengan cara jaulah ini. Mereka datangi para pemabuk, rumah orang kaya, orang miskin, orang sakit, orang lapar, dll tak kesan dengan keadaan mad’u nya.

Adakah cara dakwah yang lebih haq, lebih hebat dari ini. Suatu cara dakwah yang sudah teruji di Al Quran menghantarkan Habib Annajar menjadi Mukromin. Bukan dakwah uji coba !!

Kebodohan seorang ustadz ketika menghujat Jemaah Tabligh, ia katakan : Maulana Ilyas Rah A kerja dakwah pertama kali di India dimana negeri yang mayoritas Hindu. Pendeta mereka di sana biasa datangi umatnya dengan datang ke rumah-rumah, maka Maulana Ilyas Rah A ikut-ikutan cara pendeta Hindu datangi orang dari rumah ke rumah. Anehkan? Ada ustadz tidak tahu kalau Nabinya Dakwah datangi manusia dari rumah ke rumah.

Melepas Kedok Jamaah Tabligh V



MENGAPA HARUS KE INDIA DAN PAKISTAN BUKAN KE MEKKAH ATAU MADINAH ?

Banyak anggota mereka yang telah menghabiskan harta mereka agar dapat datang ke India dan Pakistan belajar cara kerja dakwah yang asal. Sampai-sampai orang jual rumah, kendaraan, ternak, atau kehilangan modal usaha gara-gara ingin pergi ke sana. Bahkan dalam ceramah-ceramah mereka di markaz pusat maupun daerah selalu diakhiri dengan ajakan untuk pergi ke sana. Ada apa gerangan ?

Beredar di tengah masyarakat bahwa kiblat mereka jemaah tabligh bukan ke ka’bah, mereka tak mau pergi haji, haji mereka ke India Pakistan, dsb.

Orang tua di antara mereka mengatakan kami datang ke INDIA PAKISTAN untuk belajar ke tempat yang sudah hidup amal DAKWAH, bukan untuk beribadat di sana. Ada juga yang mengatakan sebagaimana orang ingin belajar sepak bola harus ke BRAZIL dan INGGRIS karena sudah sukses menjadi juara dunia. Begitu pula belajar HADITS orang perlu ke MADINAH, belajar qiraat ke MESIR, belajar madzhab Imam Syafi’I ke negeri MELAYU, belajar WAHABY ke ARAB SAUDI, belajar madzhab Hanafy ke KHURASAN. Maka apa salah kami belajar DAKWAH ke INDIA dan PAKISTAN karena di negeri itulah hidup amal dakwah.

Masjid banyak yang hidup 24 jam tidak seperti di Negara lain masjid banyak di kunci termasuk di MAKKAH dan MADINAH jika tak musim haji terkunci. (Penyalin : Rumah Allah DIKUNCI!!?) Padahal Rasulullah saw mulai kerja dari Masjid Nabawi yang hidup dengan amal 24 jam. Di Reiwind amalan hidup 24 jam sebagaimana Masjid Nabawi dahulu di zaman Rasulullah saw.

Ada juga di antara mereka yang katakan : Kami ke INDIA mau lihat sejarah bagaimana hasil kerja dakwah yang dibuat oleh Syaikh Maulana Muhammad Ilyas Rah A terhadap orang MEWAT. Suatu kampung pemakan bangkai, tidak mengenal Allah, tak pernah ibadah, sampai menjadi kampung yang penuh kesalehan.

Yang lain mengatakan banyak orang yang menuduh kami haji ke Pakistan bukan ke Mekah terkadang mereka sendiri belum berhaji. Lihatlah di markaz kami, di sana para hujjaj tak pernah di panggil Pak Haji, bahkan mereka berkali-kali haji, ini bisa dibuktikan jika kita Tanya para AHLI SYURA mereka rata-rata lebih dari 3 kali ke haji.

Di antaranya juga katakan : Kami datang untuk Shuhbah (berteman rapat / bershahabat untuk mengambil manfaat dari ILMU maupun AMAL) dengan ulama-ulama yang telah banyak berkorban dalam kerja dakwah, dan melihat kisah nyata kehidupan mereka yang telah jadikan dakwah sebagai MAKSUD HIDUP. Sebab jika kami tidak lihat mereka hanya baca tentang dakwah maka tak akan bisa kami terapkan.

Sebagaimana penjahit yang hanya membaca buku bagaimana cara menjahit jas tetapi tak pernah lihat bagaimana jas dibuat oleh penjahit yang lebih senior maka tak mungkin bias jahit. Memang kalau kita mau jujur mengamati kepergian mereka ke India dan Pakistan tak merubah cara ibadah, dan cara mu’asyaroh mereka, artinya tidak ada misi madzhab ataupun aliran yang dibawa. Mereka malahan lebih tenggelam dalam masyarakat dan memikirkan keadaan mereka yang jauh dari agama. Mereka shalat berjamaah dengan orang banyak, cara shalat pun tak berikhtilaf dengan umat Islam lainnya hanya saja mereka lebih menekankan sholat berjamaah, di awal waktu, dan di masjid.

Jadi kebanyakan tuduhan-tuduhan orang terhadap mereka kebanyakan hanya ikut-ikutan dan mencari-cari celah kesalahan tanpa melihat perubahan yang terjadi terhadap orang yang pulang dari sana.

BEBERAPA KRITIKAN TERHADAP JEMAAH TABLIGH

Kalau kita mau jujur melihat kritikan yang beredar sejak awal usaha didirikan oleh Syaikh Maulana Muhammad Ilyas Rah A, maka kita akan dapati kritikan dengan materi yang sama. Karena usut punya usut selalu bersumber dari kitab yang sama yang selalu dijadikan topik yang berulang-ulang. Di antara kritikan yang berulang-ulang itu adalah :
  1. Mereka tak memiliki Tauhid Uluhiyyah hanya membicarakan Tauhid Rubbubiyyah saja.
  2. Mereka memiliki kebiasaan TAWAF di kuburan.
  3. Masjid-masjid mereka di dalamnya ada kuburan.
  4. Buku Fadhilah amal mengandungi hadits-hadits dhoif.
  5. Mereka ahli bid’ah di dalam ibadah.
  6. Dakwah mereka kepada hal yang rendah yaitu shalat bukan dakwah untuk murnikan agama yakni anti terhadap bid’ah sehingga tak beresiko seperti Rasulullah saw.
  7. Mereka merupakan gerakan sufi modern.
  8. Tinggalkan anak istri dan tidak mengurusnya adalah suatu kedzoliman
  9. Mereka dakwah tanpa ilmu sehingga berbahaya untuk umat Islam
  10. Haji mereka ke India Pakistan
  11. Mereka berlebihan dalam memuji masyaikh mereka (Ghuluw)
TANGGAPAN MEREKA TERHADAP KRITIKAN

Umumnya mereka tidak menanggapi kritikan-kritikan yang beredar bahkan mereka anggap angin lalu saja sehingga semakin menambah sakit hati orang yang mencemooh mereka. Karena jika kritikan ditanggapi maka orang yang kritik merasa kritikannya berarti atau merasa menang atas mereka. Tetapi aneh! Mereka tak tanggapi kritikan sehingga banyak ahli kritik yang benci mereka stress atas sikap mereka.

Tak ada satu buku pun ditulis untuk jawab kritikan. Dakwah mereka istikhlash seperti kuda INDIA yang dipakaikan kaca mata kuda tak lihat kiri kanan, tak lihat kerja orang lain, tak lihat apa kata orang, mereka tawajjuh hanya kepada tertib yang mereka telah sepakati.
Dalam mudzakaroh enam sifat mereka ada point tentang tashihun niyat / meluruskan niat. Di sana dikatakan bahwa cirri orang ikhlash adalah Sikapnya sama saja dengan orang memuji atau orang yang membenci. Mereka telah buktikan, walaupun dihina, dicaci, tetap mereka memberi salam kepada siapapun, selalu tersenyum, bahkan justru para pengkritik banyak yang tak mau jawab salam mereka, memalingkan muka dari senyum mereka, bahkan meludah di hadapan mereka.

BETULKAH JEMAAH TABLIGH SUATU ALIRAN KESUFIAN GAYA BARU ?

Banyak yang katakan bahwa para masyaikh jemaah tabligh adalah penganut Thariqat Chistiyyah. Hal ini tak bias dipungkiri terlihat dari buku yang ditulis oleh Syaikh Zakariya Al Kandahlawi dalam bukunya “Thariqat menurut Maulana Zakariya yang diterjemahkan oleh Ustadz Qosim Timori. Thariqat mereka bersanad sampai Ali Bin Abi Thalib R A.

Tetapi keanehan terjadi di dalam kerja dakwah yang mereka sebarkan tak pernah sedikit pun perintah orang untuk amalkan thariqat tertentu, hatta kepada orang yang sudah puluhan tahun ikur kerja dakwah sekalipun. Bahkan menurut sejarah yang shahih kerja tabligh yang ada sekarang dimulai ketika Syaikh Maulana Muhammad Ilyas Rah A menganggap cara-cara taklim, pengajian, thariqat yang pernah dinuatnya atas orang Mewat mengalami kegagalan dalam merubah mereka.

Dengan keilmuan yang luas Syaik Ilyas Rah A pernah membayar orang-orang Mewat untuk duduk di majlisnya dan dengan thariqatnya beliau pernah ajarkan orang Mewat untuk bersihkan Iman mereka. Tetapi semua mengalami kegagalan, barulah Allah beri taufiq untuk kerja Tabligh ini.

Lihatlah!! Mereka di masjid bukan untuk berdzikir saja tetapi mereka bertemu manusia untuk jadikan seluruh manusia berdzikir kepada Allah. Setelah itu mereka hidupp seperti biasa punya istri dan anak, punya pekerjaan. Adakah ajaran sufi seperti ini? Perlu kejujuran dalam menjawabnya.

Anehnya mereka pencemooh mengatakan Tabligh Sufi Modern karena kesamaan ucapan antara Syaikh Yusuf Rah A dengan tokoh sufi seperti Al Busyairi Rah A, dsb. Bukankah ucapan yang baik dan haq perlu selalu disampaikan walau dari siapapun. Bahkan pepatah Arab katakan : Ambillah nasehat walaupun dari dinding.

Lihatlah dalam hadits tentang perkataan Raja Hiraclius dikutip kembali oleh para shahabat dan para perawi hadits, tidak menjadikan shahabat atau perawi hadits dikatakan sebagai orang Romawi.

Inilah kedangkalan ilmu para pencemooh yang hanya didasari hasad sehingga Allah SWT tampakkan kebodohan mereka walaupun mereka dikecam justru menjadi promosi gratis bagi mereka sehingga orang yang berhati bersih jadi tablighi karena ingin tahu yang sebenarnya.
Ketika mereka katakan Jemaah Tabligh Khawarij Modern, maka orang langsung bisa lihat siapa yang Khawarij.

Ternyata sifat Khawarij yang tak mau salah (Ali RA dan Muawiyyah RA dimata Khawarij keduanya salah yang betul dia sendiri) justru ada pada para pencemooh.
Adakah Jemaah Tabligh salahkan orang ?? Baik dalam buku maupun dalam bayan mereka ?? Tidak!!
Adakah Jemaah Tabligh membid’ahkan orang sehingga tak mau shalat berjemaah di masjid, atau mau shalat hanya di masjid tertentu ?? Tidak !!
Adakah pelarangan dari syuro mereka atau ustadz mereka yang melarang duduk di majlis taklim yang diajar oleh ustadz yang bukan karkun ?? Tidak!!
Bahkan setelah khuruj dianjurkan agar lebih dekat dengan ulama di kampung mereka masing-masing.

Dengarlah ucapan Syaikh Maulana Muhammad Saad Al Kandahlawi : Wallahi!! Doa Masnunah (Doa masuk WC, Doa makan, dsb) yang diajarkan oleh Rasulullah saw jauh lebih hebat jika dibandingkan amalan yang diajarkan mursyid-mursyid dzikir.
Inikah yang dinamakan sufi?? Tidak, bahkan mereka adalah orang yang cinta sunnah Nabi saw.
Sufi menurut Ibnu Taimiyyah berasal dari kata suf artinya wol, yakni sebagian penduduk Kufah yang ahli ibadah berpakaian wol. Lihatlah baju jemaah tabligh apakah berasal dari wol?? Capek deh…

JEMAAH TABLIGH TINGGALKAN ANAK ISTRI LI I’LAI KALIMATILLAH

Jadi perginya seorang keluar di jalan Allah bukan untuk habiskan waktu di masjid, duduk, dzikir, pegang tasbih, kalaulah ini yang dibuat maka ini adalah bentuk kedzaliman terhadap keluarga. Tetapi para shahabat dahulu tinggalkan istri berbulan-bulan bahkan ada Al Faruq ayah dari Rabi’ah Al Faruq seorang muhaddits telah tinggalkan istri 27 tahun adalah untuk meniggikan kalimat Allah dengan berdakwah.

Datang dari kampung ke kampung, Bandar ke Bandar, dengan cara membentuk Jemaah dakwah. Bahkan di zaman Rasulullah saw tak kurang dari 150 jemaah telah dihantar Rasulullah saw. Dan Nabi sendiri telah ikut tak kurang dari 25 kali. Kini orang mau tegakkan agama hanya duduk di majlis taklim dan mencela sesama muslim…Mungkinkah???

TERTIB DAKWAH JEMAAH TABLIGH ADA DALAM KITAB HAYATUSHAHABAH

Amir dakwah mereka yang kedua yakni Maulana Muhammad Yusuf Rah A telah berkata: Kalau saya tuliskan suatu kitab ushul atau tertib kerja dakwah ini maka yang membaca hanyalah orang-orang yang ikut dalam kerja dakwah saja sedangkan yang lain tak baca. Padahal dakwah ini memiliki ushul dalam kehidupan sahabat. Karena Allah jadikan shahabat sebagai contoh tauladan umat. Untuk itulah saya tuliskan kitab HAYATUSSHAHABAH.
Maulana Ahmad Lat telah berkata bahwa kitab Hayatusshahabah sudah cukup untuk dijadikan ushul dalam kerja dakwah, tak perlu tambahan apa-apa, siapa yang ikut cara mereka akan ada jaminan keselamatan baginya.

Hayatusshahabah dihimpun dalam 3 jilid. Ketiga jilid merupakan keajaiban yang besar, karena belum ada kitab hadits yang ditulis dengan cara seperti ini.
Permulaan kitab ditulis dengan ayat :

“Dari kalangan orang beriman ada laki-laki yang telah membenarkan janjinya kepada Allah yakni mereka syahid dan mencari cari jalan untukk syahid”

Seolah-olah Maulana Yusuf Rah A ingin katakan inilah kitab yang berisi kisah orang yang telah tunaikan janjinya kepada Allah SWT. Akhir dari kitab ini adalah carita tentang bantuan-bantuan Allah secara ghaib yang diberikan kepada para shahabat. Sehingga tengah-tengah antara keduanya adalah berisi cara untuk datangkan bantuan itu. Mereka menamsilkan bahwa kehidupan shahabat ibarat lautan yang mana jika orang akan berenang di dalamnya harus tanggalkan dulu pakaiannya dan diganti dengan baju renang.

Ayat pembuka seolah pakaian yang bias menyelam dalam kehidupan mereka. Selama kita tak tanggalkan pakaian kita dan diganti dengan pakaian shahabat maka kita tak akan faham kehidupan mereka. Pakaian kita yakni saya seorang dokter, seorang guru, seorang ayah, seorang suami, harus kita tanggalkan dahulu dan menggantinya dengan pakaian mereka yakni Syahid dan Bersiap-siap Syahid.

Sehingga aneh jika ada seorang ustadz yang mengkritik mereka dan menanyakan mana dalil dakwah dengan cara keluar di jalan Allah ?? Mana dalilnya tinggalkan anak istri untuk dakwah ?? Mana dalilnya 4 bulan 40 hari, karena kisah tersebut telah ada dalam kitab hayatusshahabah dengan sanad hadits yang jelas.

Hanya saja menurut mereka orang yang tak mau mujahadah untuk meniru kehidupan shahabat tak akan faham dengan kehidupan mereka. Bagaimana mungkin orang akan faham agama dengan cara satu keadaan yang tak sama. Hanya mengkajinya di majlis taklim setelah itu pulang ke rumah ngobrol sama anak istri, bahkan nonton TV, kemudian shalat, dll.

Sementara para shahabat Nabi bermujahadah dalam terik matahari, kehausan, berhadapan dengan musush, musim dingin, dsb. Sedangkan Al Quran turun kepada mereka dalam keadaan suasana yang berlainan bukan di majlis taklim. Surat At Taubah turun di musim panas, surat Al Ahzab di musim dingin dsb. Mustahil akan bias memahami Al Quran tanpa mengambil pengorbanan mereka.

JEMAAH TABLIGH BUKAN ORGANISASI TETAPI DALAM KERJA DAKWAHNYA TERORGANISIR

Di mulai dari penanggung jawab mereka untuk seluruh dunia yang dikenal dengan Ahli Syura di Nizamuddin, New Delhi, INDIA. Kemudian di bawahnya ada syura Negara, misalnya : SYura Indonesia, Malaysia, Amerika, dll. Menurut pengakuan mereka ada lebih dari 250 negara yang memiliki markaz seperti Masjid Kebon Jeruk Jakarta.

Kemudian ada penanggung jawab propinsi, untuk Indonesia sudah ada di semua propinsi. Di bawahnya ada peannggungjawab Kabupaten, seperti : penanggung jawab Solo, Purwokerto, dll. Di bawahnya ada Halaqah yang terdiri dari banyak mahalah yang minimal 10 mahalah yakni masjid yang hidup amal dakwah dan masing-masing mereka ada penanggungjawab yang dipilih oleh musyawarah tempatan masing-masing.

Di India ada masjid yang menjadi Muhallah sekaligus halaqah dimana di dalam masjid hidup 10 kelompok kerja (jemaah yang dihantar tiap bulan 3 hari). Semua permasalahan diputus dalam musyawarah sehingga tak ada perselisihan di antara mereka dan mereka punya sifat taat kepada hasil musyawarah.

Walaupun mereka tak pernah katakan bentuk mereka kekhalifahan seperti harakah lain yang mempropagandakan Khilafatul Muslimin, tetapi system jemaah tabligh terlihat begitu rapi sehingga mereka saling kenal satu sama lain karena jumlah orang yang pernah keluar di jalan Allah tercatat dan terdaftar di markaz dunia.

Setiap 4 bulan mereka berkumpul musyawarah Negara masing-masing kemudian dibawa ke musyawarah dunia di Nizamuddin.

Musyawarah harian ada di mahalah masing-masing untuk memikirkan orang kampung mereka masing-masing sehingga biarpun ada yang pergi tasykiil tetaplah ada orang di maqami yang garap dakwah di sana. Orang yang suka dakwah sendiri-sendiri / penceramah suka kritik mereka katanya kenapa harus dakwah jauh-jauh ke luar negeri kalau tempat tinggal sendiri aja belum beres. Hal ini karena dakwah jemaah tabligh berjamaah sehingga walaupun mereka pergi tasykiil di maqami ada orang yang tetap jalankan dakwah.
Yang jelas mereka telah amalkan ayat :

“Hendaklah ada di antara kamu umat (Ibnu Abbas mengartikan jemaah) yang mengajak kepada kebaikan, memerintah kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang yang mendapat kejayaan.” (QS Ali Imran)
PANDANGAN JEMAAH TABLIGH TENTANG KEKHALIFAHAN

Kekhalifahan adalah janji Allah dalam AlQuran, artinya pasti Allah beri sebagaimana dalam surat An Nuur :

Allah berjanji kepada orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih pasti sungguh mereka akan dijadikan khalifah di muka bumi.

Syura mereka beri bayan : Dua orang anak dijanjikan ayahnya : Nak, jika kamu lulus dan nilai kamu baik maka ayah akan beri kalian mobil. Anak yang pertama sibuk memenuhi syaratnya, belajar semakin rajin, siang dan malam, tak fikir mobil, maka pada waktunya akhirnya ia lulus dengan nilai yang baik. Anak yang kedua sibuk pergi ke showroom mobil, lihat-lihat, Tanya harga, duduk-duduk di joknya, dll. Setiap hari tidak pernah belajar hanya sibuk bicarakan mobil. Maka pada waktunya akhirnya ia tak lulus, karena nilainya jelek.

Tuan-tuan begitulah kekhalifahan, ada orang yang sibuk propagandakan, bicarakan, diskusikan tetapi lupa penuhi syaratnya. Bahwa syarat kekhalifahan diberikan Allah SWT adalah karena Iman dan Amal Shalih.

JEMAAH TABLIGH ALIRAN MASYAIKH MANIA / BERLEBIHAN DALAM IKUT MASYAIKH (GHULLUW), BENARKAH ??? 

Datanglah ke markaz Nizamuddin, dengarkan ceramah masyaikh mereka, Syaikh Maulana Muhammad Saad Alkandahlawi : Seandainya Maulana Ilyas Rah A hidup kembali dan beliau mengatakan wahai manusia dengar !! Jangan jalani kerja tabligh yang saya ajarkan kepada kalian, karena saya keliru dan ini kesesatan.” Maka kita jangan percayai Maulan Ilyas Rah A karena kerja ini adalah kerja Anbiya, kerja yang haq di sisi Allah SWT.

Bahkan orang-orang yang pergi ke Nizamuddin tak ada satupun yang menziarahi Makam Syaikh Ilyas Rah A, tak ada targhib / anjuran, apalagi diharuskan untuk ziarah ke makam Syaikh Ilyas Rah A. Kebanyakan mereka pergi ke Nizamuddin 40 hari tetapi selama itu tak ada program ziarah makam seperti kebanyakan orang yang adakan ziarah ke wali-wali. Bahkan banyak yang pergi ke sana sampai pulang tak tahu tempat makam Syaikh Ilyas Rah A termasuk penulis yang pernah datang ke sana tak ada yang mau tunjuki dimana makam itu. Wallahi!!

Tuan-tuan buktikanlah!! Datang ke sana, kalian akan tahu jawabannya bahwa mereka bukan kepada masyaikh mereka tetapi mereka taat kepada Rasulullah saw untuk meneruskan kerja mereka. Berbeda dengan para pencemooh yang suka menggunakan lisan Syaikh mereka dalam keburukan akhlaq. Menurut Syaikh anu, anu…jemaah tabligh sesat. Jadi mereka kutip omongan syaikh bukan dalam kebaikan, sedang jemaah tabligh ikut dalam kebaikan kepada masyaikh mereka.

Melepas Kedok Jamaah Tabligh IV



PERBEDAAN DAKWAH JEMAAH TABLIGH DENGAN HAROKAH LAINNYA
  1. Dakwah Mereka Mendatangi Manusia Dengan Berjalan Kaki
  2. Modal Dakwah Mereka Adalah Harta dan Diri
  3. Dakwah Mereka Kepada Akar Bukan Ranting Yakni Kepada Iman Bukan Fiqh
  4. Dakwah Jemaah Tabligh Tak Ikut Suasana dan Keadaan
  5. Dakwah Jemaah Tabligh Dimulai Dari Keutamaan Amal
  6. Sasaran Dakwah Mereka Adalah Orang Bodoh, Orang Miskin, Orang Pendosa (Preman, Koruptor, dsb)
  7. Dakwah Jemaah Tabligh Tak Terkesan Dengan Kekuasaan
  8. Dakwah Jemaah Tabligh Tak Terkesan Dengan Harta
  9. Dakwah Mereka Tak Berpolitik
  10. Dakwah Mereka Tidak Minta Upah
1. Dakwah Mereka Mendatangi Manusia Dengan Berjalan Kaki

Jemaah Tabligh mempunyai cara dakwah yang konvensional yakni Dakwah Bil Aqdam dengan berjalan kaki jumpa manusia, sedangkan kebanyakan harokah lain berdakwah didatangi manusia seperti kajian-kajian mereka yang datang adalah orang yang akan dengar dakwah mereka. Bahkan di saat harokah lain telah memakai sarana Radio, TV, dan majalah untuk dakwah, di markaz dakwah mereka komputer saja tidak ada.

Juga banyak yang gunakan media massa Televisi, Koran, majalah, dan bulletin. Bahkan mereka dengan gunakan propaganda besar-besar pasang iklan untuk kumpulkan massa dalam kongres mereka. Sedangkan jemaah tabligh dakwah dengan senyap-senyap namun dalam ijtima’ mereka di 5 wilayah Indonesia dihadiri ratusan ribu orang padahal tak ada satu iklanpun tertempel di jalan bahkan di markaz mereka sekalipun.

Ketika ada orang yang kritik mereka : Bagaimana mungkin dakwah masih cara begitu datang ke rumah tidak efisien, bukankah sekarang ada TV, Radio, cukup kita ngomong di studio dan didengar oleh banyak orang di rumah-rumah. Mereka katakana : Dahulu shahabat Nabi dakwah dengan cara datangi manusia maka satu negeri masuk Islam, satu kota masuk Islam, satu kampung masuk Islam. Kini orang dakwah lewat majalah, TV, Radio adakah satu keluarga saja masuk Islam?

Tetapi saksikanlah satu jamaah dihantar ke pegunungan Tengger dengan berjalan kaki maka 124 Keluarga beragama Hindu telah masuk Islam.
Ulama mereka katakan : Dakwah yang tidak ikut cara Nabi dengan inovasi atau imitasi tak akan datangkan ketakwaan. Tetapi kita dakwah harus duplikasi sehingga menjadi asbab hidayah.

2. Modal Dakwah Mereka Adalah Harta dan Diri

Berbada dengan harokah lain jika ingin ada kegiatan apapun apalagi yang bersifat pengiriman tenaga dainya pasti mencari dana dari luar, di masjid-masjid selalu diumumkan soal dana.

Jemaah Tabligh beda, mereka tak bicara duit. Setiap orang yang ingin keluar di jalan Allah maka membawa uangnya sendiri untuk membiayai kebutuhannya sendiri.
Tak ada diumumkan jemaah tabligh butuh dana untuk kirim jemaah ke Irian Jaya dsb, bahkan kotak infaq saja tak ada dimarkaz mereka yang berjalan-jalan seperti di masjid lain.

3. Dakwah Mereka Kepada Akar Bukan Ranting Yakni Kepada Iman Bukan Fiqh

Banyak harokah yang tak sabar jika lihat cara kerja jemaah tabligh yang hanya bicara tentang Iman dan Amal Sholeh melulu. Sementara mereka inginkan bukan hanya amar ma’ruf tetapi nahi mungkar, hancurkan kemaksiatan, dll.
Orang tua di jemaah mereka katakan Rasulullah tak pernah hancurkan berhala dengan tangannya agar sahabat tak sembah berhala, tetapi Rasulullah hancurkan berhala yang ada di hati para sahabat, sehingga ketika hati mereka sudah penuh dengan kebesaran Allah dan berhala talah dinafikan maka dihancurkan sendiri dengan tangan mereka.
Mereka katakan : Dakwah Nabi kepada Iman dahulu, betulkan yakin maka ketika yakin betul maka akan betulkan amal manusia.

Syaikh Yusuf Rah A sebagai Amir Jemaah Tabligh yang kedua ditanya orang : Kenapa orang tabligh tak nahi mungkar hanya amar makruf saja. Maka Syaikh Yusuf Rah A katakan : Hadits tentang hal ini bunyinya Jika kamu melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan, bukan hancurkanlah tetapi rubahlah!! Lihatlah oleh kamu orang-orang yang telah keluar di jalan Allah telah merubah kehidupannya dalam ketaatan. 

Menurut mereka difinisi berkembangnya agama ditamsilkan sebagai berikut : Seperti BAYI dan MAYAT keduanya sama-sama dapat berkembang. Bayi yang dirawat dengan baik, sabar, maka walaupun lambat bayi ini akan berkembang, dan akan disayang oleh orang banyak. Setelah dewasa aka nada manfaat. Tetapi mayat yang jatuh di kali juga berkembang menjadi besar dalam hitungan jam, cepat. Tetapi baunya busuk dan tak disukai orang menjadi sumber yang mengganggu. Begitulah agama yang berkembang dengan ushul yang benar walaupun lambat akan menjadi manfaat bagi umat, tetapi yang tak ikut ushul cepat maju tetapi mudhorot buat umat.

4. Dakwah Jemaah Tabligh Tak Ikut Suasana Dan Keadaan

Dakwah yang dibuat Jemaah Tabligh tak terkesan dengan keadaan baik dalam masa aman, maupun rawan. Panas dingin, senang susah, mereka tetap keluar di jalan Allah ikut nishob yang mereka tentukan sendiri. Tak seperti harokah lain baru kirim jemaah kalau ada kejadian tertentu. Misalnya ada pemurtadan, ada gempa bumi, tsunami, orang Islam di perangi, barulah mereka buat kerja galang dana, ajak jemaah mereka ke sana. Kalau jemaah tabligh mulai program maka akan dibuatnya sampai mati.

Sampai-sampai ulama mereka Syaikh Ilyas Rah A beri nasehat : Hendaklah kalian buat jaulah tak boleh berhenti walaupun waktunya bertepatan dengan hari kematian ayah kamu, istri kamu, anak kamu. Karena jika kalian tetap jaulah maka Allah akan ampuni dosa keluarga kalian.

5. Dakwah Jemaah Tabligh Dimulai Dari Keutamaan Amal

Menurut mereka ILMU FADHOIL adalah TUJUAN sedangkan ILMU MASAIL adalah KEPERLUAN untuk mewujudkannya. Sedangkan harokah lain mereka mulai dari masail yakni ilmu cara beramal yang betul. Seperti seorang anak diberitahu Fadhilah seorang dokter bahwa dokter itu akan dapat uang banyak, dapat kemuliaan di masyarakat. Maka anak itu akan semangat belajar sungguh-sungguh dan dalam masa belajar itulah ia belajar cari jadi dokter yang baik (masail).

BUKU FADHILAH AMAL

Kebanyakan orang mengkritik buku tersebut karena isinya berisi hadits dhoif. Terjadi sedikit kejanggalan bagi para pengkritik dimana pengeritik sendiri mempunyai kaidah bahwa hadits dhoif boleh dijadikan hujjah untuk fadhilah atau untuk memberi semangat muslimin mengamalkan agama. Sementara ketika jemaah tabligh pakai hadits dhoif, banyak orang yang dahulu memakai kaidah itu justru menyalahkan seolah terjadi sentiment kepada mereka.

Menurut sebagian mereka : di dalam buku fadhilah amal berisi Al Quran dan Hadits dan disebutkan derajat sanad haditsnya. Sedangkan kisah dan tamsil serta hadits yang lain adalah untuk menjelaskan hadits yang ada. Lihatlah hadits utama yang menjadi pokok bahasan diberi nomer di setiap hadits sedangkan FAEDAH atau PENJELASAN sama dengan kitab-kitab hadits atau tafsir yang dibuat oleh ulama salaf seperti IBNU KATSIR atau syarah Riyadhus Shalihin dalam menjelaskan ayat terkadang menggunakan kisah ISRAILIYAT dan HADITS DHOIF.

Tetapi orang tidak menjadikan kitab Ibnu Katsir dhoif semua, dan tetap dijadikan acuan dalam ilmu tafsir.

Penulis Fadhilah Amal yang disebut oleh para kritikus sebagai Tablighi Nisob (istilah ini justru tak terkenal di India dan Pakistan, mereka menyebutnya Kitab Fazail) adalah ULAMA bESAR yang HAFIDZ dalam HADITS yaikni RAISUL MUHADDITSUN MAULANA MUHAMMAD ZAKARIYA AL KANDAHLAWI.

Dalam sejarah hidup beliau tertulis saat lepas dari sapihan ibunya ia telah menghafal 5 ruku’ Al Quran dan beliau HAFIDZ Al QURAN dalam usia 7 tahun. Amalan paman beliau, ayah, bibi, maupun saudaranya adalah para HAFIDZ AL QURAN dan HADITS. Beliau menulis Kitab Fadhilah Amal sambil keluar di jalan Allah dan setiap kali beliau hendak menuliskan hadits dalam kitabnya beliau selalu sholat 2 rakaat terlebih dahulu, selain itu beliau adalah pewaris dari thoreqat Chistiyyah yang disandarkan kepada Ali Bin Abi Tholib berasal dari gurunya.

Jadi baik ilmu maupun amal ruhani tak diragukan lagi. Tak mungkin beliau tak mengerti hadits dhoif dan shahih serta maudhu’ atau palsu, sedangkan seliau ada menulis satu kitab syarah bagi kitab sunan Abu Dawud dan Al Muwatho’. Lihatlah keluasan ilmu beliau yang telah mencantumkan 84 kitab yang menjadi acuan bagi buku Fadhilah Amal, maka seharusnya para pengeritik langsung mengecek kepada Maroji’.

Ilmu tentangMustholah hadits memiliki kaedah yang berbeda tiap ulama dalam menentukan shahih dan dhoif. Sehingga kisah yang masyhur hadits-hadits yang dhoif menurut syarat Bukhari dan beliau ragu memuatnya dalam kitab beliau diambil oleh Imam Hakim dan disusun menjadi kitab yang baru yang dinamakan Al Mustadrak.

Menurut mereka perdebatan tentang shahih dan dhoif dalam ilmu hadits sebenarnya telah ditutup pintunya karena terbukti ulama-ulama masih meletakkan hadits yang dhoif dalam kitab mereka seperti : Sunan Abu Dawud dan beberapa kitab kutubussitah. Sebab kalau itu berbahaya bagi agama tentu sudah dihapuskan dari kitab mereka karena mereka tak mau beresiko di Yaumul Hisab.

Imam Nawawi Rah A dalam Al Adzkar telah memuat hadits dhoif sebagai fadhilah. Begitu juga Imam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim Rah A huma.
Catatan : Kebanyakan kritik yang beredar baik buku maupun internet terlihat asal saja dan hanya semata karena hasad belaka. Terbukti ketika mereka menulis halaman yang dikritik seperti dalam Fadhail Dzikr terbitan Kutub Khonat Faidzi dikatakan halaman tertulis masalah WIHDATUL WUJUD, ternyata tak betul karena di halaman tersebut bukan bercerita hal itu melainkan tentang daftar isi…. Capek deh !! 

PEMBAGIAN ILMU MASAIL DAN FADHAIL

Di dalam kaedah jemaah tabligh menyebutkan bahwa syarat amal diterima adalah tahu fadhilahnya janji Allah dalam Amal tersebut. Sebagaimana Hadits : Barang siapa yang berpuasa karena Iman dan Ihtisab (berharap pahala) Al Hadits. Maka Nabi pun menganjurkan beramal harus mengharap pahala.

Seorang ustadz mereka di Masjid Jami’ Kebon Jeruk dalam ceramahnya mengatakan : Beramal karena mengharapkan janji-janji Allah adalah suatu bentuk KEIKHLASHAN.
Ulama mereka katakan : Sebagaimana orang yang hendak menikah dengan seorang gadis. Ketika selesai menikah sang gadis bertanya untuk dapatkan apa kamu menikah ?, maka orang itu menjawab : untuk dapatkan hadiah perkawinan. Maka pasti sang gadis akan marah! Karena seharusnya dia kawin karena ingin dapatkan gadis itu sedangkan hadiah hanyalah efek dari perkawinan.

Begitu pula dalam beramal tetaplah ikhlash semata karena Allah SWT sedangkan janji-janji Allah pasti akan didapatkan. Orang yang beramal tanpa yakin janji Allah maka seperti pesawat terbang tanpa mesin.

Itulah sebabnya jemaah tabligh setiap hari ta’lim ilmu fadhail 2 kali di masjid bersama jemaah masjid dan di rumah bersama ahli keluarga mereka.
Maulana Ilyas Rah A katakan : Ilmu Fadhail memiliki derajat satu tingkat di atas Masail karena dengan fadhail orang tergerak ingin beramal dan pada saat yang sama mereka akan belajar masail tentang amalan tersebut.

Ilmu Masail ibarat ban depan mengemudikan arah yang benar, sedangkan ilmu fadhail adalah ban belakang.

Mereka juaga mengatakan : Lihatlah karena orang tabligh belajar Fadhail maka hasrat untuk amal ditujukan untuk dirinya bukan untuk menilai amalan orang, sehingga ketika belajar masail tak akan salahkan orang lain karena agama adalah untuk diri sendiri demi mencapai Ridho Allah.

Sedangkan orang yang tak taklim Fadhail tetapi langsung Masail maka langsung melihat kesalahan orang lain karena agama bukan ditujukan untuk dirinya tetapi untuk orang lain, mulailah mereka menjadi Ahli Fatwa, Membid’ahkan bahkan meremehkan Madzhab yang di ijma’ oleh para ulama.

Mayaikh mereka katakan : Penolakan terhadap madzhab dengan mentah-mentah akan lebih banyak membawa orang kepada kesesatan.
Jemaah tabligh tidak ada taklim masail khusus tabligh, tetapi mereka mengarahkan kepada ustadz-ustadz masing-masing walaupun belum ikut dalam khuruj. Sehingga kalau kita saksikan di markaz-markaz mereka tak ada penyeragaman dalam shalat seperti di harokah. Justru dalam perbedaan mereka harmonis, tak ada yang salahkan satu sama lain. Prinsip dari jemaah tabligh adalah menghargai persamaan bukan menghargai perbedaan sehingga kebanyakan harokah lain berpecah dengan muslimin lainnya. 

6. Sasaran Dakwah Mereka Adalah Orang Bodoh, Orang Miskin, Orang Pendosa 

Pernah seorang yang dituakan di antara mereka ditanya kenapa Jemaah Tabligh tak ada SEMPALANNYA, di seluruh dunia tak ada TABLIGH TANDINGAN, tidak pernah terjadi keributan dalam kepemimpinan, program, dll.

Maka mereka katakan : Perbedaan antara jemaah mereka dengan jemaah lain adalah komponen pendukungnya. Jemaah mereka dibangun oleh orang bodoh yang hanya ikut saja tak ada inovasi, mereka taat kepada aturan jemaah, jemaah mereka orang miskin yang tidak punya uang untuk bikin tandingan karena biasanya orang kaya atau orang pandai jika usulan dalam jemaah ditolak mereka akan bikin tandingan karena punya uang untuk kumpulkan massa tandingan.

Jemaah mereka dibangun oleh orang-orang berdosa sehingga mereka hanya ingin tobat agar dosanya diampuni sehingga dengan cara apapun yang penting tobatnya diterima. Orang miskin tak punya cita-cita yang muluk-muluk hidupnya hanya untuk hari ini saja sehingga siap korban kapan saja.

Sedangkan harokah / organisasi lain senang jika orang pandai, orang kaya, para pejabat, orang sholeh / ulama ikut dalam jemaah mereka.

7. Dakwah Jemaah Tabligh Tak Terkesan Dengan Kekuasaan

Masyaikh mereka di Pakistan yakni Syaikh Abdul Wahhab ketika melihat pejabat-pejabat datang ke markaz mereka dengan formil dan pengawalan maka langsung beliau memerintahkan pejabat itu balik, karena beliau khawatir jamaah di markaz Raiwind yang hari-hari berjulah lebih dari 20.000 kehilangan tawajjuh kepada Allah dan hatinya bergeser kepada kekuasaan seolah agama dibangun dengan kekuasaan, mereka meyakini agama akan wujud dengan pengorbanan.

8. Dakwah Jemaah Tabligh Tak Terksan Dengan Harta

Di Pakistan yang menjadi markaz terbesar di seluruh dunia pernah di datangi oleh Perdana Menteri Pakistan Nawaz Syarif membawa satu koper uang untuk operasional markaz. Syaikh Abdul Wahhab telah TOLAK itu semua sehingga Nawaz Syarif katakan : Ya Syaikh, Anda tak akan temui lagi orang yang bawa uang sebanyak ini untuk markaz selain saya. Maka Syaikh Abdul Wahhab katakan : Dan anda tak akan temui orang yang tolak uang sebanyak ini selain saya.
Seorang dokter yang ikut jemaah mereka telah bercerita selama dia datang di markaz mereka tidak ada ratupun orang yang menyodorkan proposal. List sumbangan, bahkan kotak amal yang berjalan pun tak ada, tak ada pembicaraan tentang uang sumbangan. Tidak seperti di jemaah atau pengajian lain yang isinya cerita dana melulu, proposal, infaq, dll intinya ingin tarik uang umat untuk membiayai PERJUANGAN katanya.

9. Dakwah Mereka Tak Berpolitik

Seorang di antara jemaah senior mereka ditanya : Kenapa kalian tak berpolitik bukankah Rasulullah berpolitik juga?? Orang itu menjawab : Kalau kalian jeli mengamati pilihan untuk tidak berpolitik adalah sebuah politik juga yakni POLITIK untuk tidak BERPOLITIK. Mereka katakan : Kalau Rasulullah dahulu politiknya adalah merendahkan diri sendiri dan meninggikan muslimin lain, tetapi kalian sekarang berpolitik merendahkan muslimin saling caci, saling kritik, dan meninggikan diri sendiri seolah kalian yang terbaik.

Dalam politik Islam yang ada sekarang umumnya ingin turunkan orang lain dan menikkan diri sendiri berbeda dengan politik Nabi, Nabi datang kepada raja-raja untuk tawarkan Iman kalau mereka mau tak perlu diturunkan seperti Najasy. Kalau mereka menolak maka wajib bagi mereka bayar jizyah, kalau tidak mau juga baru diperangi. Adakah hari ini politik seperti politik Rasulullah ???

Mereka bukan tak berpolitik justru terlihat mereka sedang membuka jalan agar wujud politik Rasulullah yang sebenarnya di mana dimulai dari DAKWAH.
Mereka datang kepada pejabat-pejabat bahkan raja-raja agar mau ambil kerja Dakwah sebagai maksud hidup. Mereka sedang ambil aset Amerika secara perlahan-lahan. Mereka hantar jemaah-jemaah Dakwah ke Amerika dan mereka buat usaha sehingga turun hidayah di Amerika. Jika Amerika telah masuk Islam bukankah aset mereka menjadi aset Islam.
Syaikh Abdul Wahhab -Amir Dakwah Pakistan- katakan : Dahulu kami sebelum buat kerja dakwah, bangsa kami datang ke Amerika cari duit untuk bangun Pakistan. Tetapi setelah dakwah, kami cari uang di negeri sendiri setelah dapat kami belanjakan pergi ke Amerika supaya orang Amerika dapat hidayah.

Ketika utusan Usamah bin Laden datang ke Reiwind maka syaikh Abdul Wahhab kasih nasehat : kenapa kalian ajak orang Islam seluruh dunia perangi Amerika. Kita dakwahkan mereka dahulu dan doakan agar mereka dapat hidayah. Bahkan menurut pengakuan mereka beberapa pemimpin dunia telah keluar di jalan Allah bersama mereka seperti Putera Mahkota Kerajaan Qatar.

Mereka datang ke orang pemerintahan bukan ambil kekuasaan mereka tetapi agar para pemerintah mengamalkan agama di dalam pemerintahannya, begitu juga orang kaya bukan untuk ambil hartanya tetapi agar orang kaya dapat mentaati Allah SWT dengan hartanya.
Sehingga tak mengherankan jika para pejabat, orang kaya, dan alim ulama memiliki ketaatan yang tinggi kepada para ulama mereka di India dan Pakistan sehingga mereka mudah diarahkan.

10. Dakwah Mereka Tidak Minta Upah

Mereka hanya minta bayaran dari Allah saja, tak ada maksud untuk ambil uang dari mad’u (orang yang di dakwah). Ini lah yang menyebabkan mereka banyak ditentang oleh orang yang menjadikan dakwah sebagai mata pencaharian, mereka terusik dengan kehadiran jemaah sehingga mereka halangi jemaah dalam kampungnya, mereka katakan : Ini garapan saya, jangan dakwah di sini!!

Tetapi kebanyakan ustadz, penceramah yang ikut jemaah tabligh baru tahu bahwa selama ini mereka bukan DA’I tetapi MAD’U karena mereka dakwah kalau ada panggilan. Bahkan mereka berkelakar : Dulu kami setelah ceramah pulang ke rumah maka istri tanya ENTOK PIRO (dapat berapa) tetapi setelah ikut dakwah dengan jemaah maka istri tanya ENTE’ PIRO (habis berapa) duitnya.

Melepas Kedok Jamaah Tabligh III



MALAM MARKAZ JEMAAH TABLIGH

Umumnya mereka berkumpul seminggu sekali dalam Ijtimaiyyat (Di Pakistan dikenali dengan istilah Shabi Jumat). Seluruh markaz dunia dan Negara mengadakan pertemuan di malam jumat sedangkan markaz daerah seperti Sukabumi di malam minggu, Bogor di malam minggu, tangerang di malam sabtu, dsb.

Di markaz Indonesia Masjid Kebon Jeruk setiap malam jumat hadir sekitar 5000 orang. Mereka ada yang berpakaian tentara, polisi, pegawai kantor, umumnya bergamis dan berwarna putih. Tidak ada komando khusus untuk berpakaian tetapi umumnya mereka menggunakan model jubah atau gamis Pakistan.

Di luar negeri sendiri malam markaz sama di malam jumat. Bahkan di markaz Sri Petaling yang megah sering disholati oleh sultan Malaysia.

Di Karachi hadir dalam malam markaz sekitar 23.000 orang. Di Peshawar sampai 2 kali malam markaz, yakni Sabtu dan Jumat karena membludaknya orang yang hadir padahal betapa besarnya markaz di sana. Di Faisalabad sampai dirikan markaz baru karena tak muat lagi tampung jemaah.

Bayangkan kekuatan amal ijtimaiyyat yang mereka buat setiap malam jumat bersambungan antar Negara dalam satu amal yang sama, apakah hal ini tak menarik pertolongan Allah SWT ? Bukankah Tangan Allah bersama Al Jamaah. Jemaah adalah kumpulan orang beriman yang satu fikir, satu hati, dan satu kerja.

TANTANGAN JEMAAH TABLIGH

Menurut ulama mereka, yakni Syaikh Yusuf Al Kandahlawi bahwa tantangan kerja Tabligh bukanlah para peminum khamar atau ahli maksiat tetapi tantangannya adalah orang dakwah juga tetapi hanya menyeru orang kepada ibadat saja.
Ngajak orang hanya sholat, dzikir, dsb. Tetapi tidak menyuruh orang untuk berdakwah kembali. Dia sholat dan ajak orang lain untuk sholat juga.

KRITERIA PARA PENENTANG JEMAAH TABLIGH

Tak semua penentang jemaah tabligh adalah penentang hakiki, tetapi kebanyakan mereka setelah begitu keras menentang jemaah yang datang ke tempat mereka lama kelamaan hati mereka menjadi lembut setelah melihat akhlak jemaah. Bahkan tak jarang mereka akhirnya bergabung dengan para tablighi buat kerja keluar di jalan Allah untuk sebarkan agama.
Adapun umumnya kriteria para penentang jemaah tabligh sbb :

1. Orang Yang Cinta Kepada Agama

Yakni para ustadz dan orang yang memiliki ilmu agama, dimana dia dipercaya di suatu kampong sebagai penghulu kampong atau ulama di tempat tersebut. Mereka menghalangi jemaah karena khawatir tersebarnya ajaran sesat di tempat mereka. Karena ketidaktahuan mereka terhadap jemaah tabligh dan kehati-hatian di dalam mengemban amanat agama agar umat tidak tersesat.

Biasanya type seperti ini karena keikhlasan mereka dan mereka tabayyun dengan jemaah akhirnya Allah lembutkan hati mereka, dan membiarkan jemaah membuat program di tempat mereka sambil diawasi. Ketika tidak terlihat perbedaan dalam ajaran barulah mereka terima jemaah. Hal ini banyak terjadi di daerah Jawa Timur dan Madura. 

2. Orang Yang Cinta Kepada Bangsanya

Umumnya mereka para perangkat RT sampai kecamatan, dimana mereka khawatir aliran sesat masuk ke tempat mereka. Sehingga terkadang mereka wajibkan surat jalan, KTP, dsb. Setelah surat terpenuhi baru mereka menerima, tak jarang ketika melihat perubahan yang terjadi di tempat mereka barulah mereka simpati kepada jemaah bahkan sebagian mereka ada yang ikut ambil bagian dalam jemaah. Hal ini banyak terjadi di daerah Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dll.

3. Harokah Islam Yang Mempunyai Gerakan Politik

Dikarenakan jemaah tabligh tidak berpolitik dan bergerak terus menyebarkan ajarannya kepada umat Islam secara terbuka, maka hal ini potensi mengurangi suara mereka dalam PEMILU. Jemaah Tabligh tak bisa diperlakukan seperti oraganisasi lainnya dimana bisa dijadikan kantong suara dengan cara Bargaining Politik akan memberikan jabatan kepada Pemimpin Organisasinya. Sehingga Sang Pemimpin akan anjurkan anggotanya memilih salah satu Partai Politik dalam PEMILU. Tak ada satu ucapan yang mengomentari tentang PEMILU / Politik di antara mereka, tak ada anjuran untuk pilih partai tertentu.

Bahkan di saat PEMILU pun mereka tetap sibuk hantar jemaah tak terkesan dengan suasana PEMILU, karena menurut mereka pemimpin yang adil, jujur, amanat, saying rakyat akan Allah hadirkan mengikut amalan orang-orang Islam. Jika umat Islam mentaati Allah SWT, tidak maksiat maka sebagai rahmat yang turun balasannya adalah diberikan pemimpin yang saying kepada mereka. Jika orang Islam maksiat, tak mentaati perintah Allah SWT, maka biarpun pemimpin yang diangkatnya adil, jujur, sholeh, maka lambat laun pemimpin itu akan rusak juga. Mereka meyakini ketaatan datang bukan dengan bensa dan kekuasaan tetapi datang dengan USAHA DAKWAH. 

4. Harokah Kajian Yang Mengatasnamakan Al Quran dan Al Hadits

Mereka mengatakan bahwa Jemaah Tabligh ahli BIDAH tidak betul dalam Uluhiyyah dan tanpa ILMU dalam ibadat.

Hal ini wajar jika dilihat dari ta’rif Ilmu seperti mereka. Ibarat orang sekolah maka dinamakan PELAJAR adalah orang yang sekolah saja, sedangkan orang yang tak sekolah walaupun bisa baca tulis, bisa servis mobil, elektronik, dsb, tetaplah dinamakan BUKAN PELAJAR.
Orang-orang yang terlibat dalam satu kajian menganggap orang berILMU adalah orang-orang yang IKUT dalam kajian mereka saja, sedangkan orang yang tidak ikut kajian mereka biarpun mengerti fiqh, qiroaat, hafidz, muhaddits, dst, TETAP bukanlah orang BERILMU di mata mereka. INTInya harus NGAJI sama mereka.

Kekerdilan dalam berfikir terlihat di antara para pengkritik dan seolah ingin matikan SUNNAH yang diamalkan oleh jemaah tabligh seolah tidak SAH karena tidak belajar dari mereka. Bahkan ada golongan yang berani berfatwa bahwa Jamaah Tabligh bukanlah Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Memang jemaah tabligh tak pernah mengekspose kata Ahli Sunnah wal Jamaah tetapi dari mata kita dapat melihat bahwa mereka amalkan SUNNAH Nabi dengan istiqomah dan mereka hidup di dalam Jemaah orang-orang Islam tanpa dibatasi territorial apapun.

Mereka tidak menyadari bahwa air yang mereka minum berbeda. Mereka minum dari sumber ulama, syaikh-syaikh yang ingin memerangi BIDAH dalam arti MADZHAB YANG EMPAT, hanya mau kembali kepada AL Quran dan As Sunnah.

Sedangkan orang tabligh di Khurasan (India, Pakistan, Banglades, Iran, Afghanistan) adalah orang yang minum dari sumber Hanafi. Mereka tak pernah tinggalkan Madzhab bukan karena tidak pakai Al Quran dan Al Hadits.

Jujur saja jika orang Islam dalam memahami Al Quran dan Al Hadits tanpa melihat Ulama maka itu adalah hasil pemahaman sendiri.

Di antara ulama Khurasan memberi tamsil : Jika orang ingin mencari BAKUL yang terbuat dari BAMBU apakah bisa dia dapatkan di kebun bambu? Walaupun BAKUL dari bambu tetapi untuk mencarinya bukan di kebun bambu melainkan di PENGRAJIN BAKUL.

Begitu pula amalan agama walaupun dari Al Quran dan Al Hadits tetapi tidak bisa kita beribadah dengan langsung menggunakan Al Quran dan Al Hadits tetapi harus melihat Ulama beramal karena mereka adalah Warotsatul Ambiyaa’.

Para ahli anti BIDAH sering mengatas namakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qoyyim, padahal orang tabligh pun memakainya dalam kitab Fadhilah A’maal, lihatlah dalam Fadhilah Dzikir dengan seksama.

5. Orang Ahli Fitnah Dengan Prinsip Yang Penting Bukan JT

Yakni orang yang tak tabayyun terlebih dahulu, hanya membaca dari selebaran, atau ikut-ikutan orang lain. Karena kebanyakan kecaman terhadapa Jemaah Tabligh dibuat secara terbuka di Koran, majalah Islam, atau internet. Orang yang berhati kotor, ada kebencian, hasad, maka langsung menelannya dan sebarkan fitnah. Seperti beberapa khotib menyuarakannya dalam mimbar-mimbar jumat.

Umumnya kecaman dengan gaya yang sama, dan itu itu saja yang dibicarakan, seperti : Orang tabligh menyembah kubur, meninggalkan anak isteri Dzolim, mengotori masjid, dunianya / perdagangannya bangkrut gara-gara keluar, hajinya ke Pakistan bukan ke Makkah, dll.

Dan semua ini kalau diusut berasal dari satu kitab yang ditulis oleh orang yang tak dikenal keilmuannya yakni TUWARIJI yang beredar di seluruh dunia, yakni kitab HUJJATUL BALIGHOH. Yang sangat mengherankan terkadang orang yang memfitnah berani mengakui pernah ikut dalam Jamaah Tabligh, tetapi umumnya setelah ditanya tentang istilah-istilah yang merupakan bahasa hari-hari jamaah mereka tak mengetahuinya, misalnya ditanya : halaqohnya dimana? Istilah Tasykil, Tafaqud, Targhib, Zihn, Zumidar, dll.

Mereka seperti anak kecil yang punya mainan yang tak boleh dipinjam oleh siapapun, sehingga mereka hanya ingin agama jaya lewat tangan mereka, yang lain gak boleh.

Terkadang cacian kepada Jemaah Tabligh tidak menguntungkan mereka sedikitpun bahkan merugikan mereka secara waktu, harta dengan selebaran, dsb. Dan terkadang mereka paham dari orang tabligh yang baca hasutan mereka hanya sedikit saja yang terpengaruh, gak banyak. Itu pun hanya orang yang tak ikut tertib tabligh dengan betul, dan orang yang cari keuntungan dunia atau salah niat dalam tabligh.

Namun mereka sudah disemangati oleh prinsip : “YANG PENTING BUKAN TABLIGH”. Mereka kompak untuk akhirnya dalam kekecewaan dunia dan akhirat.

Syaikh Saad Al Kandahlawi dalam ceramahnya katakana :

“Orang yang menentang kerja dakwah seperti membenturkan kepala ke karang yang besar, pasti akan hancur.”

Tertib di dalam Al Quran : Jika Dakwah datang maka orang yang menerimanay akan dimuliakan, sedangkan orang yang menolaknya bahkan menghinanya akan dihancurkan ALLAH SWT.