Hari hari kita pikirkan dan bicarakan tentang kepentingan dunia, mari kita luangkan sedikit waktu untuk pikirkan dan bicarakan tentang perkara agama, tentang kebesaran Alloh, satu satunya bekal kita nanti pulang ke "Kampung Akhirat" dan untuk apa sebenarnya kita sebagai manusia Alloh SWT ciptakan di dunia ini...

Sunday, December 4, 2011

Melepas Kedok Jamaah Tabligh II



SEKITAR MARKAZ NIZAMUDDIN

Nizamuddin merupakan Basti atau kampung di kota New Delhi. Sebagaimana Nabi-Nabi diutus seluruhnya di Ummul Qurro’ atau ibu kota, begitu pulalah Jemaah Tabligh membuat kerja dan mengendalikan gerakan diseluruh dunia dari Ibu Kota Negara India yang mayoritas beragama Hindu.

Bahkan mereka dihadirkan di tengah-tengah gencarnya kebencian kaum Hindu dan Sikh di India. Tak jarang kekerasan fisik dilakukan oleh orang Hindu terhadap umat Islam lebih-lebih tatkala perpecahan India dan Pakistan. Jutaan umat Islam mati dibunuh di India. Tetapi terlihat banyak pertolongan Allah kepada Jemaah yang mubarok ini.

Mereka tetap eksis, di tengah gejolak negeri India dan hingar bingar kota New Delhi. Pada saat terjadi peperangan antara Pakistan dan India, Syaikh M Ilyas Rah A. tetap perintah jemaahnya tetap hidupkan amalan masjid, tak terkesan dengan peperangan tetapi kesan kepada amalan agama.

Markaz mereka terdiri dari 5 lantai, bangunannya tak besar. Di dalam bangunan masjid terlihat garis hijau terang pada plafon untuk menunjukkan bahwa bangunan asli Nizamuddin di zaman Syaikh Ilyas sangat kecil, lainnya merupakan perluasan masjid mengingat tak muat lagi menampung jemaah yang datang dari seluruh dunia.

Karena pelebaran itulah maka makam Syaikh Ilyas yang berada di belakang masjid akhirnya menempel dengan tembok masjid yang merupakan pembatas antara kuburan dengan masjid. Jika kita tidak bertanya dimana makam itu, maka kita tak akan tahu karena makam itu tak dapat dilihat langsung dari lantai dasar Karena tebalnya dinding pembatas dan tak adanya jendela antara kubur dengan masjid. Kita baru bisa lihat kalau kita naik ke atas lantai.
Di depan masjid ada lokasi kuburan orang tempatan, antara mihrab dengan lokasi kuburan dibatasi oleh jalan setapak sehingga tanah kuburan dengan masjid tidak bersatu. Karena padatnya kota New Delhi di depan pintu markaz ada pasar tradisional yang umumnya berdagang adalah orang India yang belum ambil kerja dakwah, terlihat dari kumis-kumis mereka yang tebal dan banyak yang cukur jenggot mereka.

Ruang bawah adalah dapur, tempat makan jemaah tempatan yang berasal dari India dan tempat wudhu dan sebagian tempat sholat bagi tempatan. Lantai dua merupakan ruang sholat dimana imam sholat berada di sana. Sholat lima waktu di Imami oleh Maulana Saad Al Kandahlawi, seorang yang faqih dalam ilmu agama. Lantai dua juga merupakan tempat makan foreign jemaat yang dari berbagai Negara, di sana mereka makan bersama para masayikh mereka di antaranya Maulana Zubair, Maulana Mustaqim, Maulana Daud, dan Maulana Yaqub.

Para tamu dari luar negeri beristirahat di lantai 3 terkadang jika penuh di lantai yang lebih atas lagi. Lantai 5 digunakan untuk menjemur pakaian. Tak ada tulisan apapun di dalam masjid kecuali penuntun arah seperti Istiqbal (tempat menerima tamu). Tulisan Tasykil untuk menunjukkan tempat mencatat nama ketika hendak keluar di jalan Allah. Tulisan Foreign untuk menunjukkan tamu, dsb yang semua petunjuk itu sebagai penunjuk arah bagi tamu yang baru pertama kali datang ke sana.

Tidak ada tulisan seperti yang dituduhkan oleh para PENDUSTA bahwa di markaz Nizamuddin ada tulisan sandi di pintu mereka berlambang surat Al Falaq, An Naas dan berbagai angka sandi. Masjid mereka bersih dari tulisan kaligrafi apapun. Di depan tembok masjid tertulis Banglawali Masjid yakni nama masjid yang menjadi markaz.

Jika kita bertanya tentang Masjid Nizamuddin maka orang akan mengantar kita ke masjid Nizamuddin yang merupakan makam Nuzamuddin Aulia seorang wali tanah Hindustan dimana orang di sekitar sana memuja-muja kuburan wali-wali dan beribadat kepada mereka. Letak masjid itu hanya beberapa ratus meter dari Markaz Tabligh yakni Banglawali Masjid.

Disinilah letak kekeliruan para pengeritik di mana mereka melihat Nizamuddin Masjid tempat pemujaan kubur. Penulis sendiri ketika berkunjung ke sana dan di bandara ditawarkan oleh pengemudi Reksa (bajaj) dengan teriakan Nizamuddin….Nizamuddin…Nizamuddin, maka ketika naik penulis dibawa ke Masjid Nizamuddin Aulia tempat pemuja kubur. Pakaian mereka dan jenggot serta atribut sama dengan jemaah tabligh. Sehingga banyak orang menyangka bahwa jemaah tabligh penyembah kubur, sehingga ucapan ini perlu TABAYYUN datang ke sana membuktikan langsung. Itulah sebabnya setiap jemaah diseru untuk pergi ke sana untuk menjawab sendiri tuduhan FITNAH yang menyebar.

Makanya tak ada jemaah tabligh yang goyang keyakinannya setelah ke sana walaupun di internet, buku-buku, majalah-majalah, yang mengkritik mereka habis-habisan tetapi keyakinan para tablighi tak goyah karena mereka telah melihat langsung KEBOHONGAN para PENDUSTA yang mengkritik mereka.

MARKAZ REIWIND

Reiwind ada di wilayah Lahore. Dari kota Lahore dengan bis kita akan sampai dalam waktu setengah jam ke sana. Markaz mampu menampung 20.000 jemaah setiap hari. Tampak setiap orang di dalamnya sibuk dengan amal. Tak ada perkara dunia yang dibicarakan.

Musyawarah agama dilakukan tiap hari sekitar 2 jam pada jam 8 atau jam 9 pagi. Sepuluh ribu orang dihantar keluar di jalan Allah setiap harinya baik dalam maupun ke luar negeri. Dalam pada itu juga 10.000 orang setiap hari masuk selesai bergerak keluar di jalan Allah. Suasana seperti shahabat Nabi dalam mempersiapkan Jihad akan tampak di sana.

Setiap subuh Masyaikh mereka yakni Syaikh Abdul Wahhab memberi ceramah pentingnya Usaha Atas Agama. Jam 10 diberikan bayan Nasihat bagi yang mau keluar di jalan Allah yang dinamakan Bayan Hidayah. Ada sepuluh halaqoh di dalam markaz setiap hari dan program markaz baru berakhir setelah jam 12 malam di musim panas dengan pembacaan kitab Hayatusshahabah.

Ada 6 amalan ijtimaiyyat dalam markaz, yakni :
  1. Musyawarah Harian
  2. Bayan Hidayah
  3. Taklim Ba’da Dzuhur
  4. Bayan Ba’da Ashar
  5. Kargozary (laporan perjalanan) selama keluar di jalan Allah
  6. Taklim Akhir
Para ulama di sana menekankan selalu hadir dalam majlis ijtimaiyyat amal, bahkan Syaikh Ihsan dalam ceramahnya selalu mengatakan : “Siapa yang tidak hadir dalam 6 amalan ijtimaiyyat markaz maka sebenarnya pada hakekatnya tak pernah datang ke Reiwind.

Jika memperhatikan markaz mereka di Reiwind kita akan tercengang dibuatnya, bagaimana tidak? Para tamu yang berjumlah lebih dari sepuluh ribu orang setiap hari dijamu makan gratis dengan lauk pauk daging setiap hari 3 kali ditambah minum susu / cae (teh susu) atau yogurt setiap pagi dan sore. Belum lagi listrik mereka begitu banyak penggunaannya, untuk air mandi, cuci, dan minum. Air kran di sana terasa hangat di musim dingin dan terasa dingin di musim panas.

Ahli dunia akan berfikir bagaimana cara manajemennya? Padahal Reiwind bukanlah pabrik yang punya produksi yang bisa dijual untuk membiayai operasional. Di sana hanya kita temui orang yang sibuk fikirkan agama, suara dakwah antar mereka terdengar seperti lebah, orang bicara kebesaran Allah, saling senyum, salam, dan ikrom terlihat di sana.
Mungkin tak ada satu Negara yang sanggup buat seperti mereka dalam melayani tamu.

MARKAZ KEBON JERUK INDONESIA

Di Jalan Hayam Wuruk 83 di kelilingi oleh kesibukan kantor, toko, bahkan ada yang buka 24 jam. Maka di Masjid Kebon Jeruk hidup amalan masjid 24 jam. Kalau kita datang jam berapa saja maka istiqbal siap layani kita.

Masjid ini merupakan masjid tua yang dibangun oleh seorang Muslim Cina yang makamnya berada di samping kiri masjid jika kita masuk dari pintu belakang dan sebelah kanan masjid jika masuk dari pintu depan.

Makam ini tadinya ada di luar masjid tetapi karena kebutuhan jemaah yang sudah tidak ketampung lagi maka dilebarkan ke belakang. Sekarang makam itu dibatasi dinding antara masjid jadi seolah berada di luar masjid. Jika orang baru datang ke sana maka tak akan tahu kalau itu adalah makam.

Tak ada orang yang khusus ke sana untuk menziarahi makam itu, bahkan dilarang, karena makam dan masjid merupakan cagar budaya yang jadi asset pemerintah ibu kota. Bahkan banyak orang tabligh yang berasal dari daerah tak tahu kalau itu kuburan.

Melepas Kedok Jamaah Tabligh I



KATA PENGANTAR

Sebagai seorang pengamat harokah di Indonesia, saya tertarik dengan ucapan pimpinan Jemaah Tabligh (istilah yang penulis pakai buat orang yang kerja dakwah di masjid Kebon Jeruk) di Indonesia, ketika seorang ustadz kritik jemaah tabligh. Beliau (almarhum) katakana : “Jangankan kerja tabligh, ‘kentut tabligh’ saja anda tak paham.”

Setelah saya amati program yang diadakan yakni khuruj fi sabilillah ternyata kerja tabligh yang mereka buat seperti khazanah lautan yang tak habis jika digali.
Orang menyangka bahwa karang adalah lautan, air adalah lautan, ada yang menyatakan juga ikan, rumput laut, pasir, dsb. Padahal lautan adalah kumpulan dari itu semua secara menyeluruh.

Kebanyakan pencemooh jemaah tabligh hanya melihat sebagian dari kerja jemaah, sehingga terlihat kekurangan disana sini seperti anggapan mereka tentang bodohnya ahli jemaah dalam hal masail, hukum Islam, dsb. Kalaulah kita mau melek sedikit, membuka hati dan mau menerima kekurangan mereka, maka di balik itu ada suatu kekuatan yang akan menjadi harapan bagi kejayaan umat Islam.

Mereka tampil di permukaan, berjalan di tengah manusia dengan segala kekurangan, tetapi hati mereka tawajjuh kepada Allah SWT, sehingga Allah tampakkan bantuan-Nya ke atas mereka. Banyak negeri yang sudah didirikan markaz dakwah mereka, tak ada suatu kekuatan pun yang bisa membendung, mereka laksana air bah.

Islamisasi di segala bidang tak terlihat tetapi dapat dirasakan oleh umat. Mereka tak suka expose di media masa, hasil kerja mereka hanya untuk menyenangkan Allah dan Rasul Nya.
Dalam buku ini saya mencoba melepas sedikit tirai/kedok mereka yang masih tersembunyi di mata orang awam, agar mereka objektif menilai kelebihan dan kekurangan jemaah tabligh, dan tidak mendengar dari satu pihak yang memiliki hasad terhadap hasil kerja mereka.

Walaupun saya menyadari tak dapat menjelaskan itu semua secara gamblang karena perlu keseriusan dalam hal ini, juga penyertaan diri dalam program khuruj fi sabilillah bersama mereka, namun semoga saja dari sedikit apa yang saya ketahui ini dapat menjadi jembatan persatuan umat agar tidak saling mencaci dan mencari-cari kesalahan saudara muslim, sehingga hari demi hari kita sibuk memikirkan bekal kita untuk berjumpa dengan Allah SWT.
Dan akhirnya saya pun akui bahwa ‘kentut’ tabligh saja saya tak tahu. Wallahu a’lam.

Catatan : Dalam buku ini saya gunakan nama Jemaah Tabligh untuk menyebut orang-orang ahli dakwah karena hal ini sudah masyhur di kalangan awam.

MISTERI JEMAAH TABLIGH

Tiba-tiba saja dunia heboh ketika menyaksikan di jalan-jalan, di kantor-kantor, tempat perbelanjaan, di pasar-pasar terlihat laki-laki berjenggot dan memakai gamis, celana di atas mata kaki berjalan dengan bebasnya, tak terkesan dengan suasana. Adat memakai kopiah bagi laki-laki dan bercadar bagi wanita mulai hidup di tengah-tengah masyarakat dan terasa tak tabu lagi. Ada apa gerangan ?

Pemandangan kontras terjadi di sekitar Masjid Jami’ Kebin Jeruk yang menjadi pusat kegiatan seluruh Indonesia bagi satu jemaah yang dinamakan oleh kebanyakan orang jemaah tabligh. Di tengah hingar-bingarnya kota Jakarta dengan kehidupan malam yang berbau sex dan kriminal, ada kumpulan orang yang terlihat bergamis sopan, selalu tundukkan pandangan bahkan tak memandang sedikit pun kepada wanita-wanita yang lalu lalang dengan pakaian seronok.

Pemuda-pemuda yang biasa menghabiskan masanya dengan hura-hura terlihat begitu antusias dalam mengamalkan agama, orang kaya dengan mobil mewah terlihat tawadu’ tak menampakkan kekayaannya. Padahal konon menurut mereka terkadang yang hadir dalam pertemuan mereka di malam jumat ada pejabat Negara, namun tidak terlihat perbedaan di antara mereka. Masya Allah…!

ASAL USUL NAMA JEMAAH TABLIGH

Nama Jemaah Tabligh sendiri sampai sekarang tak ada yang tahu dari mana asalnya. Karena orang tak akan temukan plang-plang nama di depan markaz mereka sebagaimana layaknya organisasi atau kelompok seperti secretariat AHMADIYYAH, LDII atau memiliki majalah atau bulletin yang menjadi Icon harakah seperti Hizbuttahrir, atau majalah Khilafah untuk Jemaah Khilafatul Muslim, majalah salafi untuk kajian salafi (termasuk assunnah, arrisalah, dsb) tak ada kop surat yang bersimbol “tabligh”, kaos, spanduk, selebaran, yang mempropagandakan kelompok. Misalnya bentuk partai.

Dan yang lebih menarik mereka tidak menarik dana dari manapun, tak ada rekening Bank yang mewakili mereka untuk di transfer sebagai dana perjuangan harokah lain. Kenyataan yang aneh mereka bisa pergi melalang buana ke seluruh dunia tanpa terkecuali, orang kaya, orang miskin, pejabat, petani, tukang somay, dll.

Seorang yang awam dari mereka jika ditanya tentang dari mana ia dapatkan dana? Mereka selalu katakana dari Allah..! Sumber dana mereka berasal dari kantong-kantong mereka sendiri karena mereka membuat tertib “berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri sendiri.”
Sedangkan nama jemaah dinamakan oleh orang yang tak simpati kepada gerakan mereka bermacam-macam nama yang diberikan kepada mereka, ada yang menamakan JT (di Jakarta) tetapi di Palu namanya ‘musafir’. Di India dan Pakistan orang cukup katakan ‘jemaah’ langsung paham kalau itu mereka. Ada juga yang katakan jemaah jenggot, jemaah sarung, jemaah kompor, jemaah sendalan, bahkan yang ekstrem mereka katakan jemaah pengangguran karena selalu berada di Masjid.

Tetapi orang-orang yang menjadi penanggung jawab jika ditanya tentang nama jemaah mereka, mereka akan cerita tentang syaikh besar mereka yakni Syaikh Maulana Muhammad Ilyas Rah.A yang pernah mengatakan :

“Jika saya disuruh menamakan Jemaah yang saya buat ini, maka akan saya namakan Jemaah Pergerakan Iman (Harakatul Iman), tetapi kita tak boleh menambah nama dalam Islam dengan nama.”

Salah seorang ulama mereka Syaikh Maulana Jamil di dalam ceramahnya mengatakan : “Jangan mengatakan kita orang tabligh karena perkataan itu memecah belah umat Islam.”

JEMAAH TABLIGH TIDAK MEMILIKI KARTU KEANGGOTAAN

Jika seseorang diajak oleh mereka untuk keluar di jalan Allah yang disebut tasykil dalam istilah mereka, maka cukup mendaftarkan dirinya dengan mencatat nama di tim tasykil yang mereka tunjuk. Kemudian orang itu akan dimasukkan ke jemaah yang sudah di bentuk sekitar 10 orang atau lebih (jemaah minimal berjumlah 3-4 orang).

Di dalam jemaah ada orang yang sudah lama aktif dalam tabligh, ada yang baru, ada ustadz, bahkan terkadang Hafidz Al Quran.

Tidak ada kartu anggota yang diberikan kepada jemaah, sehingga tidak seperti organisasi yang memiliki kartu keanggotaan.

Pernah ada seorang yang ikut dengan mereka namun disebabkan kekecewaan terhadap oknum di dalam tabligh, maka orang itu katakan : Saya akan keluar dari Jemaah Tabligh. Maka mereka katakan : Bagaimana anda akan keluar dari Tabligh sedangkan anda tak pernah masuk tabligh, sebab di Tabligh tak ada keanggotaan.

Mereka beranggapan bahwa Tabligh bukanlah sebuah Nama Jemaah tetapi Tabligh adalah sebuah kerja yang harus dibuat oleh seluruh orang Islam tanpa terkecuali. Bahkan diantara mereka berkata : Kami di Tabligh bukan disuruh masuk tetapi di suruh keluar yakni keluar di jalan Allah.

AQIDAH JEMAAH TABLIGH

Aqidah Jemaah Tabligh adalah Ahlu Sunnah wal Jamaah, ini bisa dibuktikan dari ucapan para masyaikh mereka di Pakistan, di Indonesia bisa langsung ditanyakan kepada Kyai-Kyai yang sudah ambil bagian dalam kerja Dakwah ini.
Walaupun tidak mempropagandakan Aqidah Ahlu Sunnah wal Jamaah dengan lafadz, namun bisa dibuktikan sbb:
  1. Di Pondok Pesantren mereka baik yang di Reiwind Pakistan atau di dalam negeri (Magelan dan Temboro misalnya) dikaji kitab Kutubussittah, artinya bukan seperti orang syiah yang anti Bukhari atau sebagian kelompok lain ‘menuhankan’ Bukhari dan menafikan kitab Hadits yang lain).
  2. Di dalam kitab yang mereka baca secara Ijtima’I misalnya Fadhilah A’mal mengutip kisah semua sahabat tanpa membedakan.
  3. Ulama-ulama mereka menulis syarah Kutubussittah seperti Syarah Imam Abu Daud dan Imam Muslim (kitabnya beredar di India). Maulana Zakariya Rah. A menulis syarah Muatho’ yakni kitab Auzajul Masalik.
  4. Tidak pernah mengatakan Al Quran adalah makhluk seperti kaum Mu’tazilah.
  5. Tidak ada pengkramatan kubur-kubur seperti Breelwie di India bahkan golongan penyembah kubur membenci mereka (penulis membuktikan sendiri melihat ketidaksukaan Breelwie kepada Jemaah Tabligh). Sementara isu fitnah yang mengatakan orang tabligh tawaf di kubur semuanya tidak betul. Wallahi..!
  6. Tak ada ajaran mereka tawaf di kubur. Kubur yang mana? Sedangkan di markaz Reiwind tidak ada kuburan satupun di sana. Wallahi!
  7. Tidak ada amalan dzikir-dzikir khusus atau wasilah terhadapa wali-wali / makhluk untuk sampai kepada Allah. Dapat dibuktikan… datanglah ke markaz mereka tak ada satupun ruangan khusus yang digunakan untuk amalan demikian, dan tak pernah diajarkan mereka bahkan mereka selalu berkata: “Makhluk adalah hijab antara hamba dengan Allah bukan sebagai wasilah”.
Uluhiyyah mereka lurus hanya beribadat kepada Allah SWT saja bahkan dalam ceramahnya Ulama mereka Syaikh Saad Al Kandahlawi telah katakan bahwa maksud ruku’ dalam sholat adalah agar kita tak boleh menundukkan kepala kita kepada selain Allah SWT. Bahkan mereka katakan : Bahwa menundukkan kepala kepada orang lain adalah hakikat penyembahan.

Di Markaz Reiwind jika kita memberi salam sambil menunduk maka para ulama di sana akan marah.

Sedangkan Rububiyyah mereka tak bisa diragukan lagi mereka siap tinggalkan anak isteri karena keyakinan yang kuat bahwa Allah Ar Raziq (Maha Pemberi Rizqi). Mereka datang ke negeri kafir dengan mengandalkan kekuatan amal, yakin Allah yang berkuasa sedangkan makhluk tak bisa memberi manfaat dan mudharat tanpa izin Allah SWT terlihat dari ceramah-ceramah mereka tentang Qudratullah, Pertolongan Allah kepada para Nabi, shahabat, serta berbicara tentang ta’rif iman yang ada dalam Al Quran dan Al Hadits.
Justru orang-orang yang mengkritik aqidah Jemaah Tabligh ketika mereka diajak / tasykil : Ayo kita keluar di jalan Allah 4 bulan.!! Kebanyakan mereka menjawab. Hah..!! 4 bulan tinggalkan anak isteri, gak kerja, anak saya makan apa? Ini aqidah rububiyyah apaan???

Wanita Yang Dirahmati vs Wanita Yang Dilaknat Allah SWT

Sejarah telah mencatat beberapa nama wanita terpandang yang di antara mereka ada yang dimuliakan Allah dengan surga, dan di antara mereka ada pula yang dihinakan Allah dengan neraka. Karena keterbatasan tempat, tidak semua figur bisa dihadirkan saat ini, namun mudah-mudahan apa yang sedikit ini bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita.
Wanita Yang Beriman

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Seutama-utama wanita ahli surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim.” (HR. Ahmad)

1. Khadijah binti Khuwailid

Dia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terhormat sehingga mendapat tempaan akhlak yang mulia, sifat yang tegas, penalaran yang tinggi, dan mampu menghindari hal-hal yang tidak terpuji sehingga kaumnya pada masa jahiliyah menyebutnya dengan ath thahirah (wanita yang suci).

Dia merupakan orang pertama yang menyambut seruan iman yang dibawa Muhammad tanpa banyak membantah dan berdebat, bahkan ia tetap membenarkan, menghibur, dan membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat semua orang mendustakan dan mengucilkan beliau. Khadijah telah mengorbankan seluruh hidupnya, jiwa dan hartanya untuk kepentingan dakwah di jalan Allah. Ia rela melepaskan kedudukannya yang terhormat di kalangan bangsanya dan ikut merasakan embargo yang dikenakan pada keluarganya.
Pribadinya yang tenang membuatnya tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan mengikuti kebanyakan pendapat penduduk negerinya yang menganggap Muhammad sebagai orang yang telah merusak tatanan dan tradisi luhur bangsanya. Karena keteguhan hati dan keistiqomahannya dalam beriman inilah Allah berkenan menitip salamNya lewat Jibril untuk Khadijah dan menyiapkan sebuah rumah baginya di surga.
Tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata:

Jibril datang kepada Nabi kemudian berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Maka jika ia telah tiba, sampaikan salam untuknya dari Rabbnya dan dari aku, dan sampaikan kabar gembira untuknya dengan sebuah rumah dari mutiara di surga, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak pula ada kepayahan.” (HR. Al-Bukhari).

Besarnya keimanan Khadijah pada risalah nubuwah, dan kemuliaan akhlaknya sangat membekas di hati Rasulullah sehingga beliau selalu menyebut-nyebut kebaikannya walaupun Khadijah telah wafat. Diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah hampir tidak pernah keluar dari rumah sehingga beliau menyebut-nyebut kebaikan tentang Khadijah dan memuji-mujinya setiap hari sehingga aku menjadi cemburu maka aku berkata: Bukankah ia seorang wanita tua yang Allah telah meng-gantikannya dengan yang lebih baik untuk engkau? Maka beliau marah sampai berkerut dahinya kemudian bersabda: Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya. Sungguh ia telah beriman di saat manusia mendustakanku, dan menolongku dengan harta di saat manusia menjauhiku, dan dengannya Allah mengaruniakan anak padaku dan tidak dengan wanita (istri) yang lain. Aisyah berkata: Maka aku berjanji untuk tidak menjelek-jelekkanny a selama-lamanya.”

2. Fatimah

Dia adalah belahan jiwa Rasulullah, putri wanita terpandang dan mantap agamanya, istri dari laki-laki ahli surga yaitu Ali bin Abi Thalib.
Dalam shahih Muslim menurut syarah An Nawawi Nabi bersabda: “Fathimah merupakan belahan diriku. Siapa yang menyakitinya, berarti menyakitiku.”
Dia rela hidup dalam kefakiran untuk mengecap manisnya iman bersama ayah dan suami tercinta. Dia korbankan segala apa yang dia miliki demi membantu menegakkan agama suami.
Fathimah adalah wanita yang penyabar, taat beragama, baik perangainya, cepat puas dan suka bersyukur.

3. Maryam binti Imran

Beliau merupakan figur wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan taat beribadah kepada Rabbnya. Beliau rela mengorbankan masa remajanya untuk bermunajat mendekatkan diri pada Allah, sehingga Dia memberinya hadiah istimewa berupa kelahiran seorang Nabi dari rahimnya tanpa bapak.

4. Asiyah binti Muzahim

Beliau adalah istri dari seorang penguasa yang lalim yaitu Fir’aun laknatullah ‘alaih. Akibat dari keimanan Asiyah kepada kerasulan Musa, ia harus rela menerima siksaan pedih dari suaminya. Betapapun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami ternyata di hatinya masih tersedia tempat tertinggi yang ia isi dengan cinta pada Allah dan RasulNya. Surga menjadi tujuan akhirnya sehingga kesulitan dan kepedihan yang ia rasakan di dunia sebagai akibat meninggalkan kemewahan hidup, budaya dan tradisi leluhur yang menyelisihi syariat Allah ia telan begitu saja bak pil kina demi kesenangan abadi. Akhirnya Asiyah meninggal dalam keadaan tersenyum dalam siksaan pengikut Fir’aun.

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu alaihi wasalam berkata:

“Fir’aun memukulkan kedua tangan dan kakinya (Asiyah) dalam keadaan terikat. Maka ketika mereka (Fir’aun dan pengikutnya) meninggalkan Asiyah, malaikat menaunginya lalu ia berkata: Ya Rabb bangunkan sebuah rumah bagiku di sisimu dalam surga. Maka Allah perlihatkan rumah yang telah disediakan untuknya di surga sebelum meninggal.”
Wanita yang durhaka
  1. Istri Nabi Nuh
  2. Istri Nabi Luth
Mereka merupakan figur dua orang istri dari para kekasih Allah yang tidak sempat merasakan manisnya iman. Hatinya lebih condong kepada apa yang diikuti oleh orang banyak daripada kebenaran yang dibawa oleh suaminya. Mereka justru membela kepentingan kaumnya karena tidak ingin dimusuhi dan dibenci oleh orang-orang yang selama ini mencintai dan menghormati dirinya. Maka kesenangan sesaat ini Allah gantikan dengan kebinasaan yang didapat bersama kaumnya. Istri Nabi Nuh ikut tenggelam oleh banjir besar bersama kaumnya yang menyekutukan Allah dengan menyembah patung-patung orang shalih, sedangkan istri Nabi Luth ditelan bumi karena adzab Allah atas kaumnya yang melakukan liwath (homoseksual) .

Semua cerita ini telah Allah rangkum dalam sebuah firmanNya yang indah dalam surat At-Tahrim ayat 10-12, yang artinya: “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah: dan dikatakan (kepada keduanya) : Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisimu dalam Surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim. Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehor-matannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”
Semoga kisah para wanita ini bisa menjadi pelajaran bagi para wanita zaman ini untuk berkaca diri, kira-kira saya termasuk golongan yang mana? Apakah golongan yang dicintai Allah atau yang dimurkaiNya?

Bagi wanita yang belum berumah tangga, saat ini merupakan kesempatan besar baginya untuk memperbanyak amalan shalih dan mendekatkan diri pada Allah, bukannya justru menghabiskan masa mudanya dengan hura-hura dan kegiatan lain yang tidak bermanfaat. Dan bagi mereka yang sudah berumah tangga, selain menjaga keistiqomahannya dalam berIslam dia juga diberi beban tambahan oleh Allah untuk membantu suami menjalankan agamanya. Istri yang demikian meru-pakan harta yang paling berharga.

Dari kisah mereka, kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa dalam keadaan bagaimanapun, hendaknya ketundukan kepada syariat Allah dan RasulNya harus tetap di atas segala-galanya. Asalkan berada di atas kebenaran, kita tidak perlu takut dibenci oleh masyrakat, sahabat, maupun orang yang paling istimewa di hati kita. Justru kewajiban kita adalah menunjukkan yang benar kepada mereka. Dengan begitu kita akan mendapatkan cinta sejati .. cinta Allah Rabbul ‘alamin.

Mudah-mudahan kita selalu diberi keistiqomahan untuk menapaki dan mengamalkan syariat yang haq (benar) walaupun kita seorang diri. Amin.
Maraji’:
  1. Ahkamun Nisa’, Ibnul Jauzi.
  2. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani.
  3. Tuhfatul Ahwadzi, Al Mubarakfuri.
  4. Wanita-wanita Shalihat Dalam Lintas Sejarah Islam, Muhyidin Abdul Hamid.

Usaha Dakwah Dikalangan Wanita

Usaha dakwah adalah tanggung jawab kita baik laki-laki maupun wanita tanpa kecuali. Dalam kerja dakwah mutlak kita harus melibatkan istri-istri dan wanita-wanita kita. Dalam kerja dakwah tidak cukup dengan anggapan yang penting istri kita sudah memperbolehkan kita ikut usaha dakwah saja, atau yang penting istri kita sudah senang dengan usaha dakwah , karena yang sesungguhnya diharapkan dari kita para pria adalah bagaimana kita membawa istri-istri dan wanita-wanita ahli keluarga kita supayah terlibat dan terjun langsung didalam usaha dakwah ini.

Seperti kita sering dengar begitu pentingnya wanita-wanita dilibatkan dalam usaha dakwah karena kalau kita mau melihat pada kenyataan yang ada jumlah wanita lebih banyak dari jumlah laki-laki mungkin bisa satu kali lipat atau dua kali lipat jadi kalau hanya laki-laki saja yang ambil bagian dalam usaha dakwah ini artinya baru 25% usaha kita untuk mencapai keberhasilan dalam dakwah , tetapi kalau wanita-wanita dan istri-istri ikut terlibat dalam usaha dakwah ini maka keberhasilan bisa betul-betul mencapai 100%.

Kita juga dapat melihat bahwasanya anak-anak fitrahnya lebih dekat kepada ibu, karena memang sehari-hari waktu mereka habiskan dengan ibu-ibu mereka, sedangkan bapak-bapak mereka sibuk di luar rumah, baik untuk bekerja maupun untuk yang lainnya, sehingga anak-anak kita ini selama 24 jam waktunya akan di habiskan untuk berkumpul bersama ibunya.

Kalau wanita-wanita ambil bagian dalam dakwah maka gerak dakwah akan lebih leluasa, sering kita dengar kalau hanya laki-laki saja yang berdakwah agama hanya sampai keruang tamu, karena kita tidak bisa langsung berdakwah kepada wanita, tapi kalau wanita sudah ikut ambil bagian dalam usaha dakwah ini maka agama akan betul-betul masuk kedalam rumah bahkan sampai ke dapur , sampai ke sumur dan yang dasyatnya akan sampai “kekasur”.

Allah swt tidak pernah mengutus Rasul dari kalangan wanita, tapi apabila Allah hendak menurunkan hidayah pada suatu negeri maka Allah akan lihat sejauh mana wanita-wanita ambil bagian dalam kerja-kerja dakwah , sehingga kalau kita lihat Nabi-nabi yg istri-istri mereka ikut ambil bagian dalam kerja dakwah hidayah akan tercurah-curah ( Nabi Ibrahim as, Rasulullah saw ) , begitu sebaliknya Nabi Nuh as berdakwah 950 tahun hanya 83 orang saja karena istri beliau tidak mendukung dalam kerja dakwah, kalau hanya suami saja yang aktif dalam usaha dakwah tanpa di dukung oleh istrinya seperti burung hanya dengan 1 sayang .

Sekiranya istri kita tidak mendukung dalam usaha dakwah maka akan berakibat kita menjadi lemah dalam usaha dakwah, walau pun orang sekampung menolak kita tapi istri kita mendukung maka hati akan menjadi tenang , tapi sebaliknya walau pun orang sekampung mendukung tapi istri menetang maka suasana hati dan rumah kita menjadi panas , maka bisa kita lihat banyak pekerja dakwah yang lemah karena istri-istri mereka tidak mendukung dalam kerja dakwah.

Oleh karenanya penting sekali wanita di libatkan dalam usaha dakwah , karena wanita memiliki potensi dan kekuatan diantaranya :

Didalam memengang prinsip dan keyakinan wanita jauh lebih hebat di banding pria, karena kalau wanita sudah mendapatkan dan menyakini suatu prinsip maka dia akan bersungguh-sungguh memegang prinsip dan keyakinannya tersebut. Kita bisa lihat ketika Rasulullah saw meninggal dunia dan diawal-awal Abu Bakar menjadi khalifah yang ketika itu banyak kaum muslim menjadi murtad tetapi Ajibnya tak satu pun wanita yang murtad, dan kita juga bisa lihat manusia yang pertama kali habis-habisan untuk usaha agama adalah wanita yaitu Khadijah r.ha

Wanita memiliki kekuatan untuk menyebarkan sesuatu, kalau kemampuannya itu digunakan untuk menyebarkan kebatilan maka kebatilan akan cepat tersebar begitupun kalau kemampuannya itu di gunakan untuk perkara agama maka agamapun akan mudah tersebar. Oleh karena itu bagaimana kita berusaha sekuat tenaga untuk kita membawa istri dan para wanita di keluarga kita agar terlibat dalam usaha dakwah ini.

Maksud kerja agama di kalangan wanita adalah agar wujudnya agama yang sempurna di rumah kita , sehingga kebahagiaan yang sempurna akan datang kepada kita sehingga kita dapat menjadikan rumah kita sebagai surgaku dengan terwujud agama yang sempurna .
Target jangka pendek kerja di kalangan wanita.

1. Menjadikan istri kita sebagai `Alimah ( berilmu ) sehingga senantiasa istri kita duduk dalam taklim secara istiqomah karena nantinya istri kita yang akan bertanggung jawab dengan taklim di rumah. Taklim di rumah adalah usaha awal kerja agama dikalangan wanita, apabila kita telah membuat dan menghidupkan taklim di rumah maka ini seolah-olah kita telah mempersilahkan agama masuk kerumah kita. Apabila di rumah kita ada taklim yakni dibacakan firmah Allah swt dan sabda Rasulullah saw maka ini seolah-olah istri dan anak-anak kita setiap harinya mendapatkan nasehat langsung dari Allah swt dan Rasul-Nya. Sehingga ahli keluarga kita akan lembut dan ada kegairahan beramal serta ada kerinduan terhadap kampung akhirat dan bahkan ahli keluarga kita ada semangat untuk berjuang dan berkorban untuk agama Allah swt.

2. Supayah istri kita menjadi Murabbiyah ( pendidik ), sehingga dapat mendidik anak-anak kita secara islami. Kalau kita melihat generasi sahabat, maka pada saat umur 18 tahun sampai 20 tahun seperti Usama bin zahid , Thariq bin Ziyad mereka sudah sanggup membawa pasukan yang jumlahnya puluhan ribu untuk menyebarkan agama keluar negeri, tapi kalau kita melihat keadaan hari ini sangat berbeda jauh sekali anak-anak kita umur 20 tahun hanya bisa kongko-kongko menghabiskan harta orang tuanya, bahkan yang terparah mereka sudah tak mengetahui lagi maksud hidup mereka, bahkan sudah tak mempunyai cita-cita untuk menyebarkan agamanya. Maka disinilah peran istri kita untuk mendidik dan membina anak-anak kita supayah menjadi generasi-generasi pilihan; Alim-Alimah , Hafiz-Hafizah , Sholeh-Sholehah, Dai-Daiyah

3. Supayah istri kita menjadi `Abidah ( ahli ibadah ), maksudnya agar istri kita rajin menjaga ibadahnya sehingga istri-istri kita selalu menjaga sholatnya tepat pada waktunya, bahkan mereka juga menjaga sholat-sholat sunah ( Dhuha, Tahajud, hajad, dll ), Istri kita menjadi rajin membaca alquran minimal 1 juz setiap hari, menjaga dzikir pagi petang, bahkan rajin membaca doa-doa masnunah sehingga istri kita dapat membantu kita menarik pertolongan Allah swt , bahkan nanti sampai pada tahapan istri kita selalu menyelesaikan setiap masalah langsung kepada Allah swt melalui amalan.

4. Supayah istri kita menjadi Zahidah ( sederhana ), sehingga kehidupan istri-istri kita meneladani sahabiyah-sahabiyah ra. Kehidupan dan rumah para sahabiyah sangat sederhana, bahkan seumur hidupnya Rasulullah saw tidak pernah memakan tepung yang halus dan Aisyah rha selama menjadi istri Rasulullah saw hanya mempunyai pakaian baru cuma dua kali saja. Para sahabiyah dan istri-istri Nabi saw melakukan segala perkerjaan rumah tangga sendiri sampai-sampai Fatimah anak dari jungjungan kita Rasulullah saw selalu dalam keadaan yang sangat memprihatinkan padahal dia adalah putri kesayangan Rasulullah saw, oleh karena itu melalu usaha dakwah ini kita mengharapkan istri-istri kita mencontoh kehidupan para sahabiyah.

5. Istri kita menjadi Khaddimah ( berkhidmad ), yakni membantu melayani dan mendorong suami keluar dijalan allah , untuk kerja-kerja agama.

6. Istri kita supayah menjadi seorang Da`iyah ( penda`wah wanita ), dia ada fikir dan risau atas keadaan umat, karena pada dasarnya istri-istri sering kali berfikir atas hal-hal yang menyusahkan dirinya ( beras belum habis sudah pusing mikirin beras untuk besok ) , mudah menangis ( anak yang sakit dia yang menangis ), maka kalau mereka gunakan tangisan dan risau dia maka hal tersebut sangat kuat untuk menarik pertolongan Allah swt , dengan kekuatan itu dia akan membujuk wanita-wanita yang datang kerumah kita untuk ambil bagian dalam usaha atas agama

Maka bagaimana pun pentingnya usaha atas masturah, usaha tersebut harus di buat dengan sangat-sangat hati-hati, perlu diperhatikan tertib-tertibnya dan usul-usulnya , maka sering kita dengar kalau jamaah rizal ( laki-laki ) yang penting keluar untuk berdakwah dulu tertib nomor 2 sedangkan untuk jamaah masturah (wanita) sebaliknya. Masturah dikeluarkan harus dengan tertib kalau tidak memenuhi tertib dan usul-usulnya maka masturah tidak boleh di keluarkan.

Tertib-tertib masturah secara Umum :

1. Dikontrol oleh markaz
2. Tidak boleh bawa anak
3. Muhrim hakiki ( suami )
4. Harus diketahui kemana tujuannya
5. Garis taqwa Masturah ini harus keluar dengan hijab sempurna ( Purdah bukan Cadar, jaga suara )

Tertib-tertib masturah secara Khusus :

Untuk jamaah 3 hari :

1. Laki-lakinya harus sudah keluar 3 hari , masturahnya harus sudah pernah duduk dalam taklim masturah,
2.Istri kita harus siap memakai purdah ,
3Harus dari keinginan istri kita sendiri, jgn sampai suami main paksa,
4.Jumlah jamaahnya antara 4 – 7 pasang

Untuk 15 hari :

Sama seperti tertib 3 hari tapi untuk laki-lakinya pernah keluar 40 hari , dan masturahnya pernah keluar 3 kali 3 kali.

Untuk jamaah 40 hari :

Sama seperti tertib 15 hari hanya saja masturahnya pernah keluar 15 hari
Untuk jamaah 2 bulan IP ( India, Pakistan )

Sama seperti tertib 40 hari tetapi Laki-lakinya sudah pernah ke IP , masturahnya minimal pernah keluar 15 hari dan ini sepenuhnya di tafakut oleh markaz Jakarta.

Kalau misalnya istri kita sudah dilibatkan dalam kerja masturah , maka sangat-sangat di anjurkan tetapi ini bukan nisab karena untuk masturah tidak ada nisab hanya saja ini sangat di tekankan supayah istri kita keluar setiap 3-4 bulan selama 3 hari, dan untuk tahunannya 15 hari dan 3 tahun sekali 40 hari. Kalau istri sudah siap keluar masturah maka di berikan mudzakarah untuk mempersiapkan apa-apa yang harus di persiapan sebelum keluar.
Walaupun istri kita sudah keluar masturah IP ( India, Pakistan ) tapi tidak melakukan hal-hal yang diatas ( 3 hari setiap 3-4 bulan, 15 hari setiap tahun dan 3 tahun sekali 40 hari ) maka fikir keduniaan istri kita akan kuat dan fikir akhiratnya akan melemah. Maka pentingnya istri kita melakukan hal-hal tersebut diatas dan yang tidak kalah pentingnya bagaimana istri-istri kita libatkan dalam usaha maqomi.

MAQOMI MASTURAH

1. Ta`lim Rumah

Taklim rumah ini harus dan wajib dibuat , baik kepada istri-istri yang belum mengambil kerja masturah maupun yang sudah, orang tua kita katakan walaupun amalan laki-lakinya sudah menyerupai Hasan Basri rah.a, dan amalan istrinya seperti Rabiah al Adawiyah maka tetap taklim rumah harus di buat secara istiqomah di tempat dan waktu yang sama minimal 30 menit plus mudzaarah 6 sifat. Dan ada hari-hari tertentu kita buat mudzakarah adab-adab sehari-hari dan masail.

2. Ta`lim Muhallah.

Penting sekali agar istri-istri kita di libatkan ikut serta dalam taklim mualah mingguan di muallah, dan tertib-tertib taklim muallah diantaranya beberapa wanita bisa menjalankan program, program dimusyawarahkan oleh kaum lelaki , dan taklim muallah harus di ketahui dan di setujui oleh markaz

Kerja Dakwah Wanita

Allah azza wa jalla menjadikan kita umat Rasulullah saw

Ada orang yang beriman dari kalangan laki-laki dana ada yang beriman dari kalangan wanita
Dari saat pertama Rasulullah saw diberikan tanggung jawab da’wah, maka pada saat itu jugalah seorang wanita mengikuti da’wah beliau

Yang paling pertama bersyahadat adalah istrinya Nabi Muhammad saw, Khadijah Al kubra r.ha.

Yang paling pertama bekorban harta untuk agama adalah kalangan wanita yaitu Khadijah Al Kubra r.ha

Yang pertama kali syahid untuk agama adalah dari kalangan wanita yaitu Sumayah r.ha

Yang paling pertama memberikan kabar gembira tentang diterimanya da’wah Nabi Muhammad saw dan mendukung pengorbanan Rasulullah saw yaitu Khadijah Al Kubra r.ha
Ketika detik pertama DA’wah dimulai, maka yang pertama bekorban adalah keluarga Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw berda’wah hingga di lempari tanah dan ludah, maka yang membersihkan wajahnya adalah putrinya, Zainab r.ha.

Ketika Rasulullah saw shalat dan dilempari dengan kotoran unta, maka yang membersihkannya adalah putrinya. Ketika da’wah dimulai, maka Ruqayyah dan Ummu Kultsum r.ha dihadapan Rasulullah saw telah diceraikan oleh para suaminya yang masih kafir.

Ketika seorang Nabi diutus untuk berda’wah dan da’wah mereka dibantu oleh istrinya, maka da’wah berkembang sangat cepat. Tetapi jika mereka berda’wah sedangkan istrinya tidak mengikuti da’wah mereka, maka da’wah akan berkembang sangat lambat bahkan dari keluarga mereka akan ada penentang dari pada da’wah agama.

Nabi Nuh a.s ketika buat usaha da’wah tidak dibantu oleh istrinya, maka da’wah beliau sangat lama waktunya bahkan anaknya sendiri tidak mau menyertai beliau.

Nabi Luth a.s ketika buat da’wah sedangkan istrinya tidak mendukungnya maka istri beliau menjadi seorang penentang da’wah Nabi Luth a.s dan tidak beriman kepada Allah azza wa jalla.

Sebaliknya, Nabi Ibrahim a.s ketika buat da’wah dan didukung oleh istrinya, dimana istrinya buat da’wah seperti juga yang dibuat oleh Nabi Ibrahim a.s maka Allah azza wa jalla telah lahirkan Nabi Ismail a.s yang punya kedudukan tinggi. Bahkan karena istri nabi Ibrahim a.s buat da’wah, maka istrinya sendirilah yang mentarbiyah Nabi Ismail a.s dalam hal agama. Bahkan Allah azza wa jalla telah membanggakannya di dalam Alqur’an dan ajaran Nabi Ibrahim a.s telah diperintahkan untuk kita ikuti hingga sekarang yaitu millah-nya Ibrahim a.s. Ini adalah dikarenakan da’wah Nabi Ibrahim a.s diikuti oleh istrinya sehingga lahir nabi Ismail a.s dan dari keturunan-keturunan beliau lahirlah Nabi Muhammad saw.

Apabila kaum lelaki buat da’wah, sedangkan istrinya tidak dilibatkan, maka ketika suami keluar di jalan Allah azza wa jalla maka sang istri akan mengeluh kepada orang lain bahwa suaminya tidak bertanggung jawab dan sebagainya.

Sebaliknya apabila istri dilibatkan dalam da’wah, ketika sang suami sedang lemah dalam berda’wah, maka sang istri akan menjadi penyemangat bagi suaminya dan akan selalu mendukungnya dalam keadaan susah maupun senang.

Mudzakarah Usaha Masturoh

Allah azza wa jalla menjadikan kita umat Rasulullah saw
Ada orang yang beriman dari kalangan laki-laki dana ada yang beriman dari kalangan wanita
Dari saat pertama Rasulullah saw diberikan tanggung jawab da’wah, maka pada saat itu jugalah seorang wanita mengikuti da’wah beliau
Yang paling pertama bersyahadat adalah istrinya Nabi Muhammad saw, Khadijah Al kubra r.ha.
Yang paling pertama bekorban harta untuk agama adalah kalangan wanita yaitu Khadijah Al Kubra r.ha
Yang pertama kali syahid untuk agama adalah dari kalangan wanita yaitu Sumayah r.ha
Yang paling pertama memberikan kabar gembira tentang diterimanya da’wah Nabi Muhammad saw dan mendukung pengorbanan Rasulullah saw yaitu Khadijah Al Kubra r.ha
Ketika detik pertama DA’wah dimulai, maka yang pertama bekorban adalah keluarga Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw berda’wah hingga di lempari tanah dan ludah, maka yang membersihkan wajahnya adalah putrinya, Zainab r.ha.
Ketika Rasulullah saw shalat dan dilempari dengan kotoran unta, maka yang membersihkannya adalah putrinya. Ketika da’wah dimulai, maka Ruqayyah dan Ummu Kultsum r.ha dihadapan Rasulullah saw telah diceraikan oleh para suaminya yang masih kafir.
Ketika seorang Nabi diutus untuk berda’wah dan da’wah mereka dibantu oleh istrinya, maka da’wah berkembang sangat cepat. Tetapi jika mereka berda’wah sedangkan istrinya tidak mengikuti da’wah mereka, maka da’wah akan berkembang sangat lambat bahkan dari keluarga mereka akan ada penentang dari pada da’wah agama.
Nabi Nuh a.s ketika buat usaha da’wah tidak dibantu oleh istrinya, maka da’wah beliau sangat lama waktunya bahkan anaknya sendiri tidak mau menyertai beliau.
Nabi Luth a.s ketika buat da’wah sedangkan istrinya tidak mendukungnya maka istri beliau menjadi seorang penentang da’wah Nabi Luth a.s dan tidak beriman kepada Allah azza wa jalla.
Sebaliknya, Nabi Ibrahim a.s ketika buat da’wah dan didukung oleh istrinya, dimana istrinya buat da’wah seperti juga yang dibuat oleh Nabi Ibrahim a.s maka Allah azza wa jalla telah lahirkan Nabi Ismail a.s yang punya kedudukan tinggi. Bahkan karena istri nabi Ibrahim a.s buat da’wah, maka istrinya sendirilah yang mentarbiyah Nabi Ismail a.s dalam hal agama. Bahkan Allah azza wa jalla telah membanggakannya di dalam Alqur’an dan ajaran Nabi Ibrahim a.s telah diperintahkan untuk kita ikuti hingga sekarang yaitu millah-nya Ibrahim a.s. Ini adalah dikarenakan da’wah Nabi Ibrahim a.s diikuti oleh istrinya sehingga lahir nabi Ismail a.s dan dari keturunan-keturunan beliau lahirlah Nabi Muhammad saw.
Apabila kaum lelaki buat da’wah, sedangkan istrinya tidak dilibatkan, maka ketika suami keluar di jalan Allah azza wa jalla maka sang istri akan mengeluh kepada orang lain bahwa suaminya tidak bertanggung jawab dan sebagainya.
Sebaliknya apabila istri dilibatkan dalam da’wah, ketika sang suami sedang lemah dalam berda’wah, maka sang istri akan menjadi penyemangat bagi suaminya dan akan selalu mendukungnya dalam keadaan susah maupun senang.

Saturday, December 3, 2011

Mudzakaroh Doa dan Wanita

Usaha dan Do’a yang dikabulkan

Nabi Nuh a.s berdo’a kepada Allah azza wa jalla. Beliau melaporkan kerjanya kepada Allah dalam do’anya. Beliau tlah berda’wah lebih kurang 1000 tahun kurang 50 tahun. Beliau berda’wah siang dan malam. Dilempari batu sehingga tertutup seluruh badannya dengan kumpulan batu tersebut. Maka ketika Nabi Nuh a.s berdo’a kepada Allah azza wa jalla mengenai keadaan ummatnya, maka seketika itu juga Allah qabulkan do’anya.

Begitu juga Nabi Yunus a.s. Beliau telah berda’wah kepada ummatnya. Tapi karena beliau putus asa, maka beliau telah tinggalkan da’wah. Maka ketika nabi Yunus a.s meninggalkan da’wah, maka seluruh makhluk membencinya. Manusia yang berada diatas kapal, membuangnya ke laut. Ikan yang ada di laut juga ikut memakannya sehingga nabi YUnus terkurung di dalam perut ikan. Tapi karena nabi Yunus a.s dahulu sudah berda’wah, maka ketika ia berdo’a slama bbrapa hari di dalamperut ikan, maka Allah azza wa jalla telah mengabulkan do’anya dan mengeluarkannya dari dalam perut ikan. Bahkan ketika ia keluar dari perut ikan, maka makhluk hidup menyambutnya dengan bahagia. Ummatnya yang menolak da’wah, akhirnya menerima da’wahnya dan menyembah Allah azza wa jalla. Bahkan Rasulullah saw bersabda, ‘Jika ada orang yang paling mulia di muka bumi, maka dia adalah nabi Yunus a.s’ Karena ia menyatakan dirinya sebagai orang yang zhalim dalam do’anya, padahal ia bukan seorang yang zhalim dan telah melakukan tugasnya sebagai nabi dengan benar.

Tapi, hari ini keadaan kita terbalik. Kita berdo’a kepada Allah azza wa jalla, ‘Ya Allah, berilah hidayah…turunkanlah hidayah,’ tapi kita nggak ada buat usaha. Da’wah tidak dibuat, ta’lim tidak dikerjakan, silaturahim ditinggalkan. Maka apakah mungkin do’a kita dikabulkan seperti kisah nabi Nuh dan Yunus a.s ..?

Usaha atas Masturah

Ada contoh 2 orang wanita pengkhianat dalam da’wah. Mereka adalah istri dari nabi Nuh dan Nabi Luth a.s Kedua orang istri nabi tersebut bukan karena mereka main serong atau main dengan lelaki yang lain. Tapi mereka dikatakan pengkhianat karena mereka tidak membantu usaha da’wah suaminya bahkan menjadi penentang dari da’wah suaminya tersebut. Maka jika hari ini ada wanita yang tidak membantu usaha da’wah suaminya, maka dialah pengkhianat agama.

Jika hari ini ada 10 orang lelaki yang telanjang [tidak menutup aurat secara sempurna], maka mudharat yang diakibatkan oleh mereka sangat kecil. Sedangkan jika hari ini ada 1 orang saja wanita yang telanjang [tidak menutup aurat secara sempurna] maka mudharat yang diakibatkan oleh wanita tersebut bisa menjerumuskan ratusan, ribuan bahkan jutaan orang untuk berbuat dosa