Hari hari kita pikirkan dan bicarakan tentang kepentingan dunia, mari kita luangkan sedikit waktu untuk pikirkan dan bicarakan tentang perkara agama, tentang kebesaran Alloh, satu satunya bekal kita nanti pulang ke "Kampung Akhirat" dan untuk apa sebenarnya kita sebagai manusia Alloh SWT ciptakan di dunia ini...
Thursday, March 14, 2013
Sunday, March 10, 2013
Saturday, March 9, 2013
Sunday, December 18, 2011
Umat Islam Mulia Bukan Karena Namanya
SBY mulia bukan karena namanya yang hebat tapi
karena kerjanya. Kerja sebagai presidenlah yang membuat SBY mulia dalam
pandangan manusia. Banyak nama yang sama Yudoyono tapi tukang becak. Bambang
tapi buruh.
Umat islam pun mulia bukan karena namanya tapi
karena kerjanya.
Rasul SAW bersabda : "Akan datang suatu masa
yang menimpa manusia; tidak ada Islam kecuali tinggal
namanya saja, tidak ada Al Qur'an kecuali tinggal
tulisannya saja, masjid-masjid mewah tetapi kosong dari petunjuk serta ulama'nya
adalah orang yang paling jahat yang berada di bawah langit." (HR. Al
Baihaqi)
Islam akan mulia kalau buat kerja. Apa
kerjanya :
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Allah. (Ali Imran: 110)
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan
umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah
dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran:
104)
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada
orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata:
"Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Fushshilat :
33)
Mengajak manusia mentaati perintah Allah.
Kerja dakwah ini lah yang membuat manusia mulia disisi Allah SWT. Sebagai mana
mulianya para nabi, begitu jugalah Allah SWT muliakan umat ini karena buat kerja
kenabian.
Hindun didepan ka’bah telah bersumpah “Walaupun seluruh
penduduk Mekkah masuk islam, saya tidak akan masuk islam. Berkat usaha dakwah
para sahabat dengan sungguh2 Hindun pun masuk islam. Satu orang sahabat berdoa
didepan ka’bah. Ya Allah,
Engkau bagilah hidayah buat orang yang suka maupun tak suka. Setelah Hindun
masuk islam. Dia ditanya tentang sumpahnya, Hindun mengatakan “Aku bukan masuk
islam tapi islamlah yang masuk kedalam hatiku”
Kalau kita masuk islam, kita yang mengatur
islam. Buat amalan yang cocok dengan nafsu kalau tidak cocok ditinggalkan. Tapi
kalau islam yang masuk kedalam hati, cocok tak cocok terus
diamalkan.
Gimanalah pak saya ini ada penyakit maag, jadi
saya tak bisalah puasa. Kalau ditanya nafsu “Memang cocok tak puasa” tapi ini
perintah Allah cocok tak cocok harus diamalkan.
Gimanalah pak mau keluar 3 hari, 40 hari, 4
bulan. Kalau ditanya nafsu “Memang cocoklah tak keluar” tapi karena ini perintah
Allah cocok tak cocok harus keluar juga.
Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka
bumi selama EMPAT BULAN dan
ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan
sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir. (At Taubah : 2)
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan
MERASA RINGAN ATAUPUN MERASA BERAT, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang
demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (At Taubah :
41)
Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak,
saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat
tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya
dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
(At
Taubah : 24)
Uang Tidak Bisa Buat Bahagia
Suatu jamaah dihantar ke suatu daerah. Jumpa
orang kaya yang dermawan, sering bagi-bagi duit. Untuk mesjid, anak yatim, Bantu
modal usaha seorang lain tanpa bunga dll.
Satu orang Jamaah yang banyak korban dalam
dakwah, ziarah kepadanya dan tasykil untuk keluar dijalan Allah.
Orang kaya katakan : kenapa harus keluar
dijalan Allah SWT? Bukankah saya sudah banyak beri uang untuk mesjid, untuk
orang miskin, anak yatim dll. Apakah saya masuk surga atau tidak?
Jamaah berkata : tuan, kalaulah surga milik
saya maka tuan akan saya masukkan ke surga, tetapi tuan… surga milik Allah yang
bisa memasukinya adalah orang yang punya yakin yang benar kepada Allah. Yakni
suatu keyakinan kejayaan, kebahagiaan ada dalam agama yakni mentaati perintah
Allah SWT dengan cara Rasulullah SAW.
Beliau melanjutkan : tuan, tahukah tuan kenapa
tuan beri kami duit kepada setiap orang miskin, yatim, masjid dll? Itu karena
tuan yakin duit bisa buat bahagia/kejayaan bagi mereka sehingga itu yang tuan
bagi.
Tetapi Rasulullah SAW tidak! Mereka datang
kepada manusia dan agama, kepada raja, kepada orang miskin, orang desa, orang
kota, bagi agama, karena mereka meyakini orang akan peroleh bahagia/kejayaan
dengan agama. Sehingga walaupun mereka kaya, tetap mereka pergi khuruj fi
sabilillah untuk ajak manusia amalkan agama walaupun mereka ahli sedekah dan
para dermawan sepeti tuan.
Seorang syech telah bayan di depan orang kaya
dan katakan : wahai saudara! Harta uangkamu tak dapat majukan kamu dalam
agama.
Orang kaya tersentak sektika pulang ada orang
kaya masuk masjid. Dan dilihatnya di shaf pertama ada orang miskin dan shaf
pertama telah penuh. Dia ingin buktikan bahwa ucapan syech itu salah. Dia
meyakini bahwa uang bisa majukan orang dalam agama.
Diapun colek orang miskin dan bisikkan : wahai
saudara, saya ada uang 100 rupee akan saya berikan kepadamu asalkan kamu mau
pindah ke shaf kedua saya di shaf pertama. Maka orang miskin pun setuju jadilah
ia mundur di shaf kedua, dan orang kaya maju di shaf pertama.
Dia kembali kepada syech tadi dan katakan:
syech tuan katakan, bahwa agama tak bisa majukan orang dalam agama, tetapi saya
telah buktikan agama bisa maju dengan duit.
Syech katakan: bagaimana caranya?
Orang kaya itu ceritakanlah semua kejadian
diatas bersama orang miskin di masjid tadi.
Maka syech katakan: wahai saudara!!
Pikirkanlah!! Ketika uang ada di kantong kamu, kamu berada dimana?
Orangkaya katakan : si shaf kedua
Syech : sedangkan ketika uang kamu buang dari
kantong kamu dan kamu sedekahkan kamu berada dimana?
Orang kaya: di shaf pertama
Syech: jadi lihatlah!! Ketika uang di kantong
kamu, kamu dalam keadaan mundur. Sedangkan ketika uangh kamu buang Dari kantong
kamu sedekahkan maka kamu maju ke shaf pertama.
Jadi ada uang kamu mundur, dan yang majukan
kamu bukan uang tetapi sedekah kamu
Tanggung Jawab Dakwah
1. DAKWAH TERHADAP DIRI SENDIRI DAN
KELUARGA
Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS At-Tahrim 6)
Dalam ayat ini firman Allah ditujukan kepada
orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu memerintahkan
supaya mereka, menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari
manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah, dan
mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada perintah Allah untuk
menyelamatkan mereka dari api neraka.
Di antara cara menyelamatkan diri dari api
neraka itu ialah mendirikan salat dan bersabar, sebagaimana firman Allah SWT :
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu
mengerjakannya” (QS. Taha 132).
Dan dijelaskan pula dengan firman-Nya : “Dan
berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (QS Asy Syu'ara'
214).
Diriwayatkan bahwa ketika ayat ke 6 ini turun,
Umar berkata: "Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana
menjaga keluarga kami?" Rasulullah SAW. menjawab: "Larang mereka mengerjakan apa
yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka melakukan apa yang
Allah memerintahkan kepadamu melakukannya. Begitulah caranya meluputkan mereka
dari api neraka. Neraka itu dijaga oleh malaikat yang kasar dan keras yang
pemimpinnya berjumlah sembilan belas malaikat, mereka dikuasakan mengadakan
penyiksaan di dalam neraka, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan Allah.
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menjelaskan,
“Penjaganya adalah para malaikat Zabaniyah yang hati mereka keras, kaku, tidak
mengasihi jika dimohon kepada mereka agar menaruh iba
Ada yang mengatakan, para malaikat itu kasar
ucapannya dan keras perbuatannya. Ada yang berpendapat, malaikat tersebut sangat
kasar dalam menyiksa penduduk neraka, keras terhadap mereka. Bila dalam bahasa
Arab dinyatakan: “Fulanun Syadiidun ‘alaa fulaanin” maksudnya Fulan menguasainya dengan kuat,
menyiksanya dengan berbagai macam siksaan.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jarak antara dua pundak
salah seorang dari malaikat tersebut adalah sejauh perjalanan setahun. Kekuatan
salah seorang dari mereka adalah bila ia memukul dengan alat pukul niscaya
dengan sekali pukulan tersebut tersungkur 70.000 manusia ke dalam jurang
Jahannam.” (Al-Jami’ li
Ahkamil Qur’an,
18/218)
Sebagaimana ayat ini mengharuskan seseorang
menjaga keluarga dan anak-anak dari api neraka dengan cara memberikan pendidikan
dan pengajaran kepada mereka, serta memberitahu mereka tentang perintah Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Seorang
hamba tidak dapat selamat kecuali bila ia menegakkan apa yang Allah Subhanahu wa
Ta’ala perintahkan terhadap
dirinya dan orang-orang yang di bawah penguasaannya, baik istri-istrinya,
anak-anaknya, dan selain mereka dari orang-orang yang berada di bawah kekuasaan
dan pengaturannya.
2. DAKWAH TERHADAP KAUM KERABAT DAN TETANGGA
DEKAT
Allah SWT berfirman : “Dan berilah peringatan
kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (QS Asy Syu'ara' 214).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi bukit Shafa
dan menaikinya, lalu menyeru manusia untuk berkumpul. Maka orang-orang pun
berkumpul di sekitar beliau. Sampai-sampai yang tidak dapat hadir mengirim
utusannya untuk mendengarkan apa gerangan yang akan disampaikan oleh Muhammad
Shallallahu ‘alaihi
wasallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memanggil kerabat-kerabatnya, “Wahai Bani
Abdil Muththallib! Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Lu’ai! Apa pendapat kalian andai aku
beritakan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda dari balik bukit ini akan
menyerang kalian. Adakah kalian akan membenarkan aku?” Mereka serempak menjawab,
“Iya.” Beliau melanjutkan, “Sungguh aku memperingatkan kalian sebelum datangnya
azab yang pedih.” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Aisyah radhiyallahu ‘anha memberitakan bahwa ketika turun
ayat di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit seraya berkata, “Wahai Fathimah putri
Muhammad! Wahai Shafiyyah putrid Abdul Muththalib! Wahai Bani Abdil Muththalib!
Aku tidak memiliki kuasa sedikit pun di hadapan Allah Subhanahu wa
Ta’ala untuk menolong kalian
kelak. (Adapun di kehidupan dunia ini) maka mintalah harta dariku semau kalian.”
(HR. Muslim)
Dari Ibnu Abbas r.huma menceritakan, “Ketika
Allah SWT. Menurun ayat : Berilah peringatan kepada kaum keluargamu yang dekat.”
(QS Asy Syu'ara' 214).
Maka Nabi SAW naik ke bukit Shafa dan berseru,
“Hai manusia, Maka orang-orang pun berkumpul (menyambut seruan) beliau, ada yang
datang sendiri dan ada yang mengutus wakil-wakilnya. Lalu Rasulullah SAW
menyeru, “Wahai Bani Abdil Muthalib, wahai Bani Fihir, wahai Bani anu, Bani
anu..! Bagaimana menurut kalian seandainya aku beritahukan pada kalian bahwa di
balik bukit ini ada pasukan musuh berkuda yang siap menyerang kalian, apakah
kalian mempercayai ucapku?” Mereka menjawab, “Ya, (kami percaya).” Beliau
bersabda, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian akan azab yang
pedih.” Mendengar hal itu, Abu Lahab langsung berkata, “Celakalah kamu sepanjang
hari ini, apakah kamu mengundang kami semua hanya untuk ini?” (Sebagai jawaban
atas celaan Abu Lahab ini), maka Allah ‘Azza wajalla menurunkan ayat :
“Celaka kedua tangan Abu Lahab, dan celakalah
ia.” (QS. Al Lahab ayat 1) (Hr. Ahmad V/17)
3. DAKWAH TERHADAP KAMPUNG ATAU DAERAH
SEKITARNYA
Allah SWT berfirman : “dan ini (Al Quran)
adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan Kitab-Kitab
yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk)
Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. orang-orang yang
beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan
mereka selalu memelihara sembahyangnya”. (QS Al-An’am 92).
Sesudah itu Allah SWT. menjelaskan bahwa
Alquran itu adalah kitab yang bernilai tinggi, diturunkan kepada Nabi Muhammad
saw. penutup para Rasul. Kitab itu turun dari Allah seperti halnya Taurat yang
diturunkan kepada Musa a.s. Hanya saja Alquran itu mempunyai nilai-nilai yang
lebih sempurna karena Alquran itu berlaku abadi untuk sepanjang masa. Alquran
itu di samping sebagai petunjuk juga sebagai pembenar kitab-kitab yang
diturunkan sebelumnya dalam urusan tauhid, melenyapkan kemusyrikan dan
mengandung ajaran-ajaran pokok hukum syarak yang abadi yang tidak berubah ubah
sepanjang masa.
Juga sebagai pegangan bagi Rasulullah saw.
untuk memperingatkan umatnya, baik yang berada di Mekah atau di sekitar kota
Mekah, ialah orang-orang yang berada di seluruh penjuru bumi ini. Dimaksud
dengan orang-orang yang berada di sekitar kota Mekah, ialah orang-orang yang
berada di seluruh penjuru bumi, sesuai dengan pemahaman bahasa dan pengertian
ini ditegaskan sendiri oleh Allah SWT : “Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya
dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai
Alquran (kepadanya). (Q.S Al An'am 19)
Juga firman Allah SWT : Katakanlah, "Hai
manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua. (Q.S Al A'raf 158)
Dan sabda Nabi SAW : Semua nabi itu diutus
hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia. (HR
Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah (Sahih Bukhari jilid 1, 70)
Dalam pada itu Allah SWT. menjelaskan bahwa
orang-orang yang percaya akan terjadinya hari kiamat dan kehidupan di akhirat,
sudah pasti mereka percaya kepada Alquran, karena orang-orang yang percaya
kepada kehidupan akhirat itu percaya pula akan akibat yang diterima pada hari
itu. Itulah sebabnya maka mereka selalu mencari petunjuk-petunjuk yang dapat
menyelamatkan diri mereka di akhirat kelak. Petunjuk-petunjuk itu terdapat dalam
Alquran, maka mereka tentu akan mempercayai Alquran itu, percaya pada Rasulullah
saw. yang menerima kitab itu dan taat kepada perintah-Nya, melaksanakan salat
pada waktunya secara terus menerus.
Disebutkan salat dalam ayat ini, karena salat
itu adalah tiang agama dan pokok dari semua ibadah. Orang yang melaksanakan
salat dengan sebaik-baiknya adalah pertanda bahwa orang itu suka melaksanakan
ibadah lainnya serta dapat mengendalikan hawa nafsunya untuk tidak melakukan
larangan larangan Allah.
Dalam ayat ini terdapat sindiran yang tegas
yaitu adanya keingkaran penduduk Mekah dan manusia-manusia yang mempunyai sikap
seperti mereka kepada Alquran dan menjelaskan bahwa mereka tidak mau menerima
agama Islam dan kerasulan Muhammad saw. adalah karena mereka tidak percaya
kepada kehidupan akhirat. Mereka merasa bahwa kehidupan hanya terjadi di dunia
saja.
4. DAKWAH ATAU TANGGUNG JAWAB MANUSIA SELURUH
ALAM.
Allah SWT berfirman : “Kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia, menyuruh kepada yang
ma’ruf, dan mencegah dari
yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah
itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik.”
(QS Ali Imran 110)
Ayat ini mengandung suatu dorongan kepada kaum
mukminin supaya tetap memelihara sifat-sifat utama itu dan supaya mereka tetap
mempunyai semangat yang tinggi.
Umat yang paling baik di dunia adalah umat
yang mempunyai dua macam sifat, yaitu mengajak kebaikan serta mencegah
kemungkaran, dan senantiasa beriman kepada Allah. Semua sifat itu telah dimiliki
oleh kaum muslimin di masa nabi dan telah menjadi darah daging dalam diri mereka
karena itu mereka menjadi kuat dan jaya. Dalam waktu yang singkat mereka telah
dapat menjadikan seluruh tanah Arab tunduk dan patuh di bawah naungan Islam,
hidup aman dan tenteram di bawah panji-panji keadilan, padahal mereka sebelumnya
adalah umat yang berpecah belah selalu berada dalam suasana kacau dan saling
berperang antara sesama mereka. Ini adalah berkat keteguhan iman. dan kepatuhan
mereka menjalankan ajaran agama dan berkat ketabahan dan keuletan mereka
menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Iman yang mendalam di hati
mereka selalu mendorong untuk berjihad dan berjuang untuk menegakkan kebenaran
dan keadilan sebagaimana tersebut dalam firman Allah : "Sesungguhnya orang-orang
yang beriman, hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul Nya.
kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka
pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar". (QS. Al Hujurat
15)
Jadi ada dua syarat untuk menjadi sebaik-baik
umat di dunia, sebagaimana diterangkan dalam ayat ini, pertama iman yang kuat
dan; kedua menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Maka setiap umat
yang memiliki kedua sifat ini pasti umat itu jaya dan mulia dan apabila kedua
hal itu diabaikan dan tidak diperdulikan lagi, maka tidak dapat disesalkan bila
umat itu jatuh ke lembah kemelaratan.
Selanjutnya Allah menerangkan bahwa Ahli Kitab
itu jika beriman tentulah itu lebih baik bagi mereka. Tetapi sedikit sekali di
antara mereka yang beriman seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya, dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik tidak mau beriman. mereka
percaya kepada sebagian kitab dan kafir kepada sebagiannya yang lain, atau
mereka percaya kepada sebagian Rasul seperti Musa dan Isa dan kafir kepada Nabi
Muhammad SAW.
Ibnu katsir mengatakan ayat ini mengandung
makna umum mencakup semua ummat ini dalam setiap generasinya dan sebaik-baik
generasi mereka ialah orang-orang yang Rasulullah SAW diutus dikalangan mereka,
kemudian orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka.
Makna ayat ini sama dengan makna ayat lain
:
Allah SWT berfirman : “dan demikian (pula)
Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan” (QS. Al
Baqarah 143)
Bagaimana caranya mengamalkan ayat-ayat
tersebut ?
1. Untuk diri sendiri dan keluarga salah satu
usahanya yaitu kita buat ta'lim dirumah
2. Untuk kaum kerabat dan tetangga dekat
silahturahmi, Jaulah untuk saling mengingatkan
3. Untuk kampung sekitar atau kota sekitar
maka waktunya kami sediakan minimal 3 hari setiap bulan
4. Kemudian yang terakhir untuk seluruh
manusia ini tentunya sangat berat karena jumlah manusia lebih dari 6 milliar,
maka dengan kelemahan kami alim ulama telah ajak keluar dalam waktu yang agak
lama yaitu 40 hari dan atau 4 bulan baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.
Memang seumur hidup belum tentu bisa mendatangi semua orang, tetapi Insya Allah
dengan niat untuk mendatangi seluruh manusia kemudian mengajak orang yang lain
buat usaha yang sama maka Allah akan terima niat kita, sebagaimana Rasulullah
SAW diutus untuk seluruh umat sampai hari terakhir yang Allah kehendaki namun
umur beliau hanya 63 tahun, tapi Allah terima usaha yang dilakukan Rasulullah
SAW sehingga usaha ini masih akan berlanjut sampai hari terakhir yang Allah
kehendaki. Jadi usaha da'wah rasulullah yang dilakukan ini bukan hanya 3 hari,
40 hari atau 4 bulan saja, tapi setiap hari dan seumur hidup kita untuk dakwah
dan dakwah menjadi maksud hidup.
Sifat Orang Indonesia
Ketika ditanyakan kepada seorang syech di
Pakistan, kenapa orang Indonesia tidak bisa istiqomah?
Maka beliau katakan : negeri kamu adalah
negeri yang dikelilingi air, dan air berlimpah-limpah disana.
Maka sifat orang-orang dinegri kamu adalah
sifat air selalu ikut bentuk didalam piring ikut piring , dalam gelas, dalam
kolam dll maka selalu ikut bentuk wadahnya.
Maka orang-orang negeri kamu ikut suasana jika
suasana taat maka jadi taat, jika suasana maksiat ikut maksiat.
Beliau lanjutkan biarpun air itu sifatnya
tetapi jangan khawatir jika air digunakan tetap dan terus menerus maka akan
menghadirkan kekuatan yang besar.
Seperti saat perang mesir dan Israel, tentara
Israel membuat suatu benteng yang bernama berlin, dibuat tujuh lapis dari kawat
besi, jerami, tembok. Karet dll. tentara mesir kewalahan dan tak mampu tembus
benteng maka Professor Abdul Hamid mengusulkan pesan alat penyemprot air dari
jerman beliau liat ayat
Dan dari air dan segala sesuatu menjadi
hidup.
Maka disemprotkan benteng itu dengan air lalu
selama 40 hari terus menerus dan akhirnya jebol juga.
Jadi sifat air memiliki kekuatan yang besar
untuk menghancurkan segala kekuatan apapun kecuali kekuatan angin.
Kalau orang Indonesia buat pengorbanan terus
menerus maka semua permasalahan akan terselesaikan.
Orang-orang yang alloh pilih untuk buat kerja
Nabi berasal dari 3 golongan sesuai isi ayat dalam surat Fathir 32, orang jahat,
orang yang kadang-kadang jahat, orang yang selalu baik.
Allah SWT berfirman : “Kemudian kitab itu Kami
wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di
antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada
yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat
kebaikandengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar”.
(QS. Fathir 32)
Mereka diumpamakan pembagian air dalam ilmu
fiqih:
1 air mutlak, yakni air yang suci dan dapat
mensucikan artinya orang yang berdakwah memang munasib/ cocok jadi
da’i karena Track Record nya
memang baik dan orang semua kenal kebaikannya dan orang percaya akan menjadi
baik jika ikut dia.
2. air Musta’mal, air yang tercampur najis.
Da’i jenis ini adalah orang
yang labil, kadang baca Qur’an kadang baca Koran, kadang pakai siwak Nabi – kadang pakai siwak Fir’aun/ rokok. Orang tadinya ragu kepada
ajakannya tetapi karena ia dalam ijtima’iat maka Allah pakai dia untuk istilah orang lain. Ibarat air, jika
musta’mal dicampur dengan
air mutlak dalam kadar dua kulah maka akan dapat digunakan lagi untuk bersuci
walaupun asalnya musta’mal.
3. Air Mutanajis, asalnya air kotor tidak bisa
buat bersuci, tetapi dalam ilmu fiqih jika air seember kena najis maka dia
tuangkan kedalam air yang berjumlah dua kulah, kemudian air itu diambil lagi
seember menjadi air yang suci dapat digunakan bersuci lagi.
Jadi biarpun ahli dakwah bukan semua orang
soleh, ada orang yang tanggung, ada yang kotor tetapi karena mereka buat dengan
ijtima’iat maka semuanya
dapat menjadi peng islah buat seluruh alam.
Sifat Menutupi Jasad, Jasad Menutupi Sifat
Hidup didunia memang penuh tipuan. Satu orang
yang mempunyai sifat suka mencuri tapi ditutupi dengan jasadnya, penampilannya
dengan baju yang bagus dan berdasi. Sehingga orang lain pun tak tahu bahwa di
memang pencuri. Satu orang yang yang mempunyai sifat dengki, hasad, sombong
tidak akan bisa dilihat karena ditutupi oleh jasadnya yang dibuat seindah
mungkin. Untuk menutupi sifat-sifatnya yang tidak baik ditutupi dengan
penampilan jasad yang baik.
Sebaliknya diakherat akan dibalik sifat
menutupi jasad. Apa saja sifat-sifat kita begitulah wujud jasad kita diakherat
nanti. Akan ada 12 barisan diakherat. Jasadnya seperti babi hutan karena didunia
sifatnya pun lebih rendah dari babi hutan sering meringan-ringankan shalat.
Jasadnya berbentuk keledai karena enggan membayar zakat. Barisan terakhir
jasadnya penuh dengan sinar laksana bulan purnama. Inilah orang yang beramal
saleh dan banyak berbuat baik dan mengajak orang kepada kebaikan.
Sifat yang kurang baik didunia bisa ditutupi
dengan penampilan jasad yang baik tapi diakherat, bagai mana sifat kita didunia
maka begitulah penampilan jasad kita diakherat nanti. Sifat yang baik akan
menghasilkan jasad yang baik. Sifat yang buruk akan menghasilkan jasad yang
buruk.
Di Yaumul Hisab nanti setiap manusia akan jadi
terdakwa.
Terdakwa : Ayah
Jaksa penuntut umum : istri dan
anak
Hakim : Allah SWT
Satu langkah lagi sang ayah akan memasuki
surga. Istri dan anaknya berkata : “Tunggu dulu, jangan masukan dia kedalam
surga karena didunia dia tidak pernah mengajak kami kepada kebaikan”.
Sang anak berkata : “Kalau saya tinggal kelas,
ayah akan pukul saya tapi kalau saya tinggalkan shalat ayah tak pernak pukul
saya”
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu
anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat apabila sudah
mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai UMUR SEPULUH TAHUN MAKA PUKULLAH mereka
apabila tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.”
(HR. Abu Daud)
Sang istri berkata : “Kalau saya keluar rumah
tidak pake jilbab, suami saya tidak pernah marah.
Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada wanita
yang beriman, ‘Hendaklah
mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kerudung ke dadanya, …” (QS. An-Nuur 31).
Anak dan istri yang tidak didik dengan agama
akan jadi Jaksa penuntut buat sang ayah nanti di Yaumul Hisab. Sebaliknya anak
dan istri yang didik dalam agama akan menjadi Pengacara buat ayah di Yaumul
Hisab.
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. Attahrim
6)
Pernahkah satu orang ayah menghidupkan agama
di keluarganya…?
Pulang kerumah langsung nonton TV, makan,
berhubungan suami istri. Hari-hari itulah rutinitas sang ayah.
Pernahkah kita mengajak istri dan anak. Dek,
nak, kita baca dua tiga hadist atau dongeng sebelum tidur “Membaca Hayatus
sahabah” kehidupan orang yang sukses dalam agama.
Untuk membiasakan baca hadist dan menghidupkan
agama dalam keluarga kita juga perlu proses. Belajar ikut keluar 3 hari supaya
ada kekuatan menghidupkan agama dalam kehidupan dan keluarga kita.
Dengan keluar 3 hari sifat-sifat yang buruk
dalam diri kita akan berubah menjadi sifat-sifat yang baik. Sifat yang baik akan
menghasilkan jasad yang baik yang penuh dengan cahaya.
Istri dan anak pun akan menjadi
Pengacara/penolong kita di Yaumul Hisab nanti.
27 hari kita buat usaha atas dunia yang pasti
dan pasti kita tinggalkan kenapa kita tidak bisa meluangkan waktu 3 hari untuk
bekal akhirat yang selama-lamanya.
Insya Allah
Shalat Mendatangkan Rezeki
Ketika Maulana Ilyas rah.a mengadakan sebuah
pengajian tentang shalat bisa mendatangkan rezeki. Satu orang mahasiswa berdiri
dan bertanya :
“Maulana, mana mungkin hanya dengan shalat
bisa dapat rezeki, Cuma gerak-gerak badan (shalat) saja dapat rezeki kalau mau
dapat rezeki itu kita harus bekerja.”
Maulana Ilyas rah.a : “Coba kamu tanya kepada
polisi yang ada diperempatan jalan sana. Polisi itu Cuma gerak-gerak tangan
saja. Maulana Ilyas sambil menggerakkan tangannya kekiri kekanan maju dan
mundur. Polisi itu dapat rezeki gak?
Mahasiswa : “Ya, dapat rezeki”.
Maulana Ilyas rah.a : “Jangan kamu lihat
polisinya tapi lihatlah siapa yang menggaji dia. Jangan kamu lihat orang yang
shalatnya tapi lihatlah siapa menggaji-Nya.”
Allah SWT berfirman : “dan perintahkanlah
kepada keluargamu MENDIRIKAN SHALAT dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta
rezki kepadamu, KAMILAH YANG MEMBERI REZKI
KEPADAMU. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang
yang bertakwa”. (QS. Thaahaa 132)
Atas dasar Firman Allah SWT inilah bahwa
shalat itu mendatangkan rezeki.
13 pintu rezeki
1. Taqwa
2. Tawakal
3. Shalat
4. Doa
5. Dakwah
6. Taklim
7. Baca Al Qur’an
8. Zikir
9. Istighfar
10. Silaturrahmi
11. Sedekah
12. Nikah
13. Kerja
Coba kita lihat shalat itu ada pada urutan
nomor 3 untuk mendatangkan rezeki.
Kerja yang kita anggap selama ini sesuatu hal
untuk mendatangkan rezeki ada pada level terahir nomor 13.
Begitu juga dengan nikah, kita berkeyakinan
kalau nanti saya nikah, mau dikasih makan apa istri saya. Padahal nikah itu satu
tingkat diatas bekerja untuk mendatangkan rezeki. Kalau kita masih lajang atau
gadis dapat uang Rp. 50.000,-/hari kalau sudah nikah pasti rezekinya bertambah.
Rezeki istri bisa datang lewat suami karena rezeki setiap manusia sudah di jamin
Allah SWT. Kalau sudah menikah bisa saja penghasilannya Rp. 80.000,- atau Rp.
100.000,-/hari.
Setiap Amalan Itu Pasti Ada Maksudnya
Setiap amalan yang Allah SWT perintahkan
kepada manusia pasti ada maksudnya.
Shalat maksudnya mencegah
kemungkaran
Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya shalat itu
mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”. (QS. Al 'Ankabuut
45)
Kalau shalatnya belum bisa mencegah dari
perbuatan mungkar berarti shalatnya belum lagi mencapai maksud dari shalat itu.
Perlu diperbaiki lagi
Puasa maksudnya menjadi orang
bertakwa
Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang
beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu bertakwa”, (QS. Al Baqarah 183)
Kalau puasanyanya belum bisa menjadikan orang
bertakwa berarti puasanya belum lagi mencapai maksud dari puasa itu. Perlu
diperbaiki lagi
Zakat maksudnya membersihkan harta
Allah SWT berfirman : “Ambillah zakat dari
sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka
dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman
jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. At Taubah
103)
Haji maksudnya pergi Baitullah untuk
mengingatkan keadaan kita nanti di padang mahsyar
Ketika haji akan memakai pakaian yang sama.
Status, pangkat dan jabatan tidak akan terlihat disana. Sama saja.
Lari-lari kecil antara safa dan marwa di
yaumil akhir pun kita kan berlari kepada nabi Adam as untuk meminta Syafa'at
tapi disuruh kepada nabi Nuh as, lalu ke Ibrahim as, Musa as, Isa as dan
terakhir yang bisa memberi hanya Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT pun punya maksud menghantar manusia
kepermukaan bumi ini. Apa maksudnya?
Dunia dicibtakan untuk manusia, manusia
dicibtakan untuk akhirat.
Allah SWT berfirman : “Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS.
Adz Dzaariyaat 56)
Segala fasilitas yang ada dipermukaan bumi
ini. Allah SWT cibtakan semuanya untuk mempermudah manusia beribadah.
Ayah telah menyuruh anaknya untuk membeli
gula. Untuk mempermudah sang anak membeli gula, ayah pun memberikan sepeda. Ini
uang, ini sepeda sekarang belikan ayah gula. Tetapi belum sampai tujuan. Anak
ini dirayu oleh temannya untuk bermain. Sehingga dia pun lalai dan lupa maksud
dan tujuannya membeli gula. Waktu magrib pun semakin dekat dan sang anak pun
tidak berani pulang kerumah karena takut dimarahi. Tetapi mau tidak mau harus
pulang juga dan di marahi ayah.
Keadaan kita pun seperti anak ini. Allah SWT
menyuruh kita untuk sempurnakan iman dikehidupan dunia. Kita diberi fasilitas
mobil, rumah dan uang untuk mempermudah manusia beribadah tetapi di dalam
kehidupan kita ini dirayu oleh setan dan bala tentaranya sehingga lalai dan lupa
maksud dan tujuan. Waktu magrib (tua) pun semakin dekat. Semakin dipenghujung
waktu semakin takut kembali kepada Allah SWT. Tetapi mau tidak mau manusia itu
harus kembali kepada Allah SWT dalam keadaan iman sempurna.
Allah SWT berfirman : “Dan tiadalah kehidupan
dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah
yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. QS. Al 'Ankabuut
64)
Memanglah dunia ini tempat main-main. Makanya
manusia disibukkan dengan permainan dunia.
Kalau manusia tidak sempurnakan iman didunia.
Maka Allah SWT akan sempurnakan imannya di neraka.
Dan berikanlah peringatan kepada manusia
terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah
orang-orang yang zalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami
ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan
Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul." (Kepada mereka dikatakan): "Bukankah
kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?
(QS. Ibrahim 44)
Iman manusia ketika itu begitu sempurna karena
telah melihat langsung azab Allah SWT. Ya Tuhan kami, kembalikan kami kedunia
untuk sempurnakan iman. Ini IMPOSSIBLE
Sebagai mana tidak mungkin susu kembali ke
putingnya
Sebagai mana tidak mungkin anak kembali ke
perut ibunya
Manusia pun tidak mungkin kembali kedunia.
Andaikan iman Fir’aun ketika di alam kubur ditimbang
dengan imannya semua wali Allah yang masih hidup yang ada dipermukaan bumi ini.
Niscaya imannya Fir’aun
lebih berat lagi. Karena dia telah melihat langsung azab Allah SWT sedangkan
wali Allah belum.
Katakanlah: "Pada hari kemenangan (Hari
Kiamat) itu tidak berguna bagi orang-orang kafir, iman mereka dan tidak pula
mereka diberi tangguh." (QS. As Sajdah 29)
Iman yang sempurna di alam kubur tidak berlaku
lagi karena waktu untuk menyempurnakan hanya didunia saja. Makanya, kalau
manusia tidak sempurnakan iman didunia. Maka Allah SWT akan sempurnakan imannya
di neraka.
Kalaulah anak yang bijak, dia tahu betul
maksudnya beli gula dan langsung ditunaikan seketika dan tepat waktu. Ayah pun
akan senang dan segala permintaan anak akan dituruti.
Kalaulah manusia yang bijak, dia tahu betul
maksudnya sempurnakan iman dipermukaan bumi ini. Allah SWT pun akan senang dan
memberikan kita balasan yang sempurna berupa surga.
Wajahnya cantik seperti nabi Yusuf
as
Umurnya muda 33 tahun seperti nabi Isa
as
Suaranya merdu seperti nabi Daud as
Kekuatannya seperti nabi Musa as
Tinggi badannya 30 meter seperti nabi Adam
as
Akhlaqnya seperti nabi Muhammad SAW
Jadi, tidak ada hal yang paling penting
didunia ini selain menyempurnakan iman. Inilah maksud sesungguhnya Allah SWT
hantar manusia kepermukaan bumi ini.
Alhamdulillah, usaha untuk menyempurnakan iman
ini sudah ada diseluruh dunia. Kita tinggal pilih saja
- Sempurnakan iman di dunia
- Sempurnakan iman di neraka
Pasti kita pilih sempurnakan iman didunia.
Luangkanlah waktu 3 hari untuk belajar
sempurnakan iman
Insya Allah
Sembelih Kecintaan Terhadap Dunia
Allah SWT berfirman : “Maka tatkala anak itu
sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai
anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar." (QS. Ash Shaaffaat 102)
Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup
berusaha bersama-sama Ibrahim yaitu telah mencapai usia sehingga dapat
membantunya bekerja; pada saat itu anak Nabi Ibrahim berusia tiga belas tahun
Ibrahim berkata, "Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat maksudnya, telah melihat
dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu! mimpi para nabi adalah mimpi yang benar,
dan semua pekerjaan mereka berdasarkan perintah dari Allah SWT. maka pikirkanlah
apa pendapatmu!" tentang mimpiku itu; Nabi Ibrahim bermusyawarah dengannya
supaya ia menurut, mau disembelih, dan taat kepada perintah-Nya. Ia menjawab,
"Hai bapakku huruf Ta pada lafal Abati ini merupakan pergantian dari Ya Idhafah
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu untuk melakukannya Insya Allah
engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" menghadapi hal
tersebut.
Menurut riwayat Ibnu `Abbas , tatkala Ibrahim
as diperintahkan untuk melakukan ibadah datanglah setan menggoda di waktu sai.
Setan mencoba berlomba dengan dia, tapi Ibrahim as berhasil mendahuluinya sampai
ke Jumrah aqabah. Setan menggodanya lagi, tetapi Ibrahim as menyuruh
melemparinya dengan batu tujuh kali hingga dia lari. Pada waktu jumratul wusta
datang lagi setan menggodanya, tapi dilempari oleh Ibrahim as tujuh kali.
Kemudian Ibrahim as menyuruh anaknya menelungkupkan mukanya untuk segera
disembelih. Ismail as waktu itu sedang mengenakan baju gamis (panjang) putih:
Berkata dia kepada bapakaya; "Wahai bapakku, tidak ada kain untuk mengafaniku
kecuali baju gamisku itu, maka lepaskanlah supaya kamu dengan gamisku itu dapat
mengafaniku". Maka Ibrahim mulai meninggalkan baju gamis itu, tapi pada saat
itulah ada suara di belakangnya menyeru dia: "Hai Ibrahim, kamu sudah
melaksanakan dengan jujur mimpimu". Ibrahim segera berpaling, tiba-tiba seekor
kambing kibas putih ada di hadapannya.
Allah SWT menyuruh Nabi Ibrahim as bukan untuk
menyembelihi Nabi Ismail as tapi untuk MENYEMBELIH KECINTAAN KEPADA ANAKNYA.
Selama 13 tahun Nabi Ibrahim tinggalkan anak dan istrinya untuk MENYEMBELIH
KECINTAAN KEPADA ANAK DAN ISTRI. Setelah 13 tahun berjumpa kembali kecintaan
Nabi Ibrahim kepada Anaknya mulai tumbuh berkembang. Allah SWT mau memberi
pelajaran buat kita semua. Supaya menyembelih kecintaan kepada anak.
Allah SWT berfirman : Katakanlah: "jika
bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan
Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik.” (QS. At Taubah 24)
Kecintaan kepada benda yang hidup dalam ayat
ini ada lima :
1. Bapa-bapa
2. Anak-anak
3. Saudara-saudara
4. Isteri-isteri
5. Kaum keluargamu
Kecintaan kepada benda yang mati dalam ayat
ini ada tiga :
1. Harta kekayaan yang kamu
usahakan
2. Perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya
3. Tempat tinggal yang kamu sukai
Kecintaan kepada yang delapan perkara ini
jangan sampai melebihi kecintaan kepada tiga perkara :
1. Allah SWT
2. Rasul-Nya
3. Berjuang dijalan Allah
Allah SWT berfirman : Katakanlah: "Jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali
'Imran 31)
Seorang bapak mempunyai seorang anak dan
seekor kambing. Ketika anak sakit, kambing disembelih dan dagingnya dijual untuk
biaya berobat anak. Tapi kalau kambingnya sakit, anak disembelih untuk biaya
berobat kambing. Ini namanya GILA. Berapa banyak manusia yang sembelih perintah
Allah demi untuk kepentingan dunia. Ketika waktu Zuhur yang Allah SWT ingin
shalat berjamaah di mesjid tapi demi jualan jengkol. Dia rela sembelih perintah
Allah demi untuk tunaikan hajatnya jualan jengkol. Saat itu kebesaran jengkol
lebih besar dihatinya dibanding kebesaran Allah SWT.
Keluar 3 hari, 40 hari dan 4 bulan dalam
rangka menyembelih kecintaan kepada anak dan istri serta 8 perkara dalam At
Taubah ayat 24
Insya Allah
Sangka Baik Itu Penting
Satu orang pemuda lulusan S2 pertanian bekerja
disebuah perkebunan kelapa sawit. Pupuk yang bapak gunakan ini salah. Nak, saya
disini sudah bekerja 30 tahun dan tidak pernah ada kelapa sawit yang mati dan
produksinya pun bagus. Bapak tahu gak siapa saya, saya ini lulusan S2 pertanian.
Menurut teori yang saya pelajari pupuk ini tidak bagus digunakan. Bapak ini pun
menjawab : ITUKAN TEORI”
Satu orang pemuda lulusan S2 Ekonomi di
Amerika sedang duduk disebuah restoran dan bercerita dengan seorang kakek. Kakek
dulu sekolah dimana…? Kakek Cuma tamat SD nak. Dengan panjang lebar pemuda ini
bercerita bagai mana memajukan ekonomi. Singkat cerita kakek ini mengatakan
“YANG PUNYA RESTORAN DAN HOTEL INI SAYA”. Kakek balik bertanya : “Nak, kerja
dimana sekarang” dijawab : “MASIH PENGANGGURAN”
Satu orang pemuda lulusan S2 jurusan agama di
Madinah pulang kampung dan berjumpa dengan satu orang bapak yang dulunya preman
dan sekarang sudah bertaubat. Pak, dakwah dari rumah ke rumah itu salah. Apalagi
sampai dakwah 40 hari, 4 bulan tinggalkan istri. Bapak ini menjawab : saya sudah
5 tahun ikut dakwah 60 teman saya yang dulunya pemabuk, tukang zina sekarang
sudah taubat karena sering saya datangi. 10 orang kristen sudah saya masukkan
islam. Sudah berapa orang yang kamu ajak kepada kebaikan, sudah berapa orang
yang kamu islamkan…? Pemuda itu diam dan mengalihkan. Pemuda itu mengatakan.
Kita berdakwah itu dimesjid. Ngapain repot-repot 3 hari mengeluarkan dana dan
meninggalkan istri. Bapak ini menjawab : kalau berdakwah di mesjid itu kepada
orang yang sudah baik. Jadi bagaimana nasib saudara kita yang belum mau ke
mesjid.
Satu orang pemuda tamatan pesantren berjumpa
dengan seorang kakek. Didalam hati pemuda ini berkata “Kakek ini lebih tua dari
saya, lebih banyak ilmunya, lebih banyak pahalanya, lebih banyak pengalamannya”.
Didalam hati kakek pun berkata “Pemuda ini lebih muda dari saya, lebih sedikit
dosanya, lebih faham ilmu agama dari pada saya.
Satu orang yang belajar kita Shahih Bukhari
belum tentu amalannya shahih. Yang shahih hadistnya. Satu orang yang hanya
belajar Fadhail Amal tapi diamalkan dan istiqamah, amalannya shahih.
Untuk mendapatkan ilmu bukan hanya dari
membaca dan belajar. 1 ilmu yang kita ketahui diamalkan dengan istiqamah, Allah
akan memberi 10 femahaman ilmu yang tidak kita ketahui. Umar bin khattab bekas
preman bukan lulusan S2 atau S3 tapi lulusan Mesjid (Belajar di mesjid) tapi 2/3
dunia telah tunduk kepada islam.
Janganlah kita menganggap remeh orang-orang
disekitar kita. Walau pun kita sudah Mufti sekali pun belum tentu kita lebih
pintar dari mereka. Rasulullah orang yang cerdas dan pintar tapi sering sekali
menanyakan pendapat kepada Abu Bakar, Umar dan sahabat lain dan selalu
bermusyawarah dalam segala hal.
Orang yang bodoh itu yang menganggap dirinya
pintar dan orang yang pintar itu yang masih ada keinginan memuntut ilmu.
Selalulah berprasangka baik kepada orang
lain.
Al Hujuraat: 11
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu
kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang
diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)dan jangan pula
wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita
(yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan
janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil
dengan gelar-gelar yang buruk.Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang
buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah
orang-orang yang zalim. (QS. 49:11).
Al Hujuraat: 12
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu
menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan
daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. (QS. 49:12).
Sampaikanlah Walau Satu Ayat
Wahyu yang kedua kalinya turun Ya ayyuhal
Mudatsir. Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan!. Buat
dakwah. Kita mengetahui wahyu yang pertama kali turun adalah Iqra’ Bismi Rabbikal Lazi Khalaq. “Bacalah,
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang
mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya “.
Wahyu yang pertama terdiri dari 5 ayat. Nabi
SAW waktu itu masih faham 5 ayat saja. Sudah diperintahkan buat dakwah.
Sekembalinya dari Gua Hira Nabi Muhammad SAW menggigil dan berselimut. Malaikat
Jibril datang kembali menyampaikan wahyu yang kedua. Ya ayyuhal Mudatsir, Hai
orang yang berselimut, bangunlah, bangunlah. Buat dakwah. Yang perlu digaris
bawahi disini Nabi SAW ketika itu masih tahu 5 ayat saja. Tetapi sudah disuruh
buat dakwah.
Di hari pertama Nabi SAW buat dakwah. Beliau
telah dakwah kepada istrinya Khadijah dan masuk islam. Dakwah kepada Zaid bin
Haritsah dan masuk islam. Zaid adalah seorang budak yang dibeli oleh Nabi SAW
dan menjadikannya anak angkat. Dakwah kepada keponakannya Ali bin Abi Thalib dan
masuk islam. Dakwah kepada temannya Abu Bakar dan masuk islam. Di hari pertama
Nabi SAW buat dakwah telah mengislamkan 4 orang.
Abu Bakar telah bertanya kepada Nabi SAW. Ya
Nabi Allah apa tugas dan kewajiban saya? Nabi SAW menjawab :”Apa tugas saya
itulah tugas kamu”. Apa tugas Nabi SAW? Buat dakwah. Abu Bakar pun langsung buat
dakwah. Yang perlu digaris bawahi disini Abu Bakar ketika itu tidak tahu apa-apa
mengenai islam dan tidak satu ayat pun yang beliau tahu. Yang diketahui Abu
Bakar islam itu adalah “Dakwah”. Abu Bakar ketika itu Cuma tahu satu kalimat
saja. Yaitu kalimat iman. “Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah”.
Dari Aisyah r.ha. menceritakan, “Abu Bakar ra.
keluar untuk menemui Rasulullah SAW karena memang ia sudah bersahabat dengan
Nabi SAW sejak masa jahiliyah. Ketika bertemu dengan Nabi SAW. ia berkata, “Hai
Abdul Qasim (Nabi Muhammad SAW), Engkau telah diasingkan dari majelis kaummu,
dan mereka menuduhmu telah menghina nenek moyang mereka.” Rasulullah SAW
bersabda, “Aku adalah Rasul Allah, aku mengajak engkau kepada (agama) Allah.”
Setelah beliau selesai menyampaikan ucapannya (dakwahnya), maka Abu Bakar ra.
pun memeluk Islam. Lalu Rasulullah SAW pergi meninggalkan Abu Bakar, dan tiada
seorang pun di antara kedua bukit Makkah yang lebih berbahagia daripada
Rasulullah SAW dengan masuk islamnya Abu Bakar ra. Dari sana Abu Bakar ra. pergi
kepada Utsman bin Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abu Waqqash r.hum. (untuk
mengajak mereka kepada Islam). Maka mereka pun semuanya memeluk Islam. Esok
harinya Abu Bakar ra datang kepada Utsman bin Mazh’un, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdur Rahman
bin ‘Auf, Abu Salamah bin
Abdul Asad, dan Arqam bin Abil Arqam, lalu membawa mereka semua (kepada
Rasulullah SAW maka mereka pun masuk Islam).” (Al Bidaayah Wan Nihaayah
III/80)
Dihari pertama Abu Bakar masuk islam, beliau
telah mengislamkan 4 orang dan di hari kedua Abu Bakar masuk islam, beliau telah
mengislamkan 5 orang lagi. Dalam jangka 2 hari Abu Bakar sudah mengislamkan 9
orang.
Jadi, 10 Assabiqunal Awwalun itu adalah 4
orang taskilan Nabi SAW dan 6 orang taskilan Abu Bakar yaitu : Khadijah, Zaid
bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, Utsman bin Affan, Thalhah bin
‘Ubaidillah, Zubair bin
Awwam, dan Sa’ad bin Abu
Waqqash, Utsman bin Mazh’un,
Abu Ubaidah bin Jarrah.
Nabi SAW baru faham 5 ayat sudah diperintahkan
buat dakwah. Abu Bakar baru tahu satu kalimat “Laa ilaaha illallaah Muhammadur
Rasulullah” sudah diperintahkan buat dakwah.
- Bolehkah anak kecil mengumandangkan adzan...? Jawabnya boleh.
- Bolehkah seseorang yang sama sekali belum pernah sekolah mengumandangkan adzan...? Jawabnya boleh.
- Bolehkah seorang preman mengumandangkan adzan...? Jawabnya boleh.
- Bolehkah tukang becak mengumandangkan adzan...? Jawabnya boleh.
- Bolehkah ulama mengumandangkan adzan...? Jawabnya tentu boleh.
Jadi, intinya siapa saja boleh mengumandangkan
adzan. Asal dia tahu lafadz-lafadznya (Islam).
Setelah selesai adzan kita akan berdoa
“Allahumma Robba Hadzihid Da'waatit Taammah...” Wahai Tuhanku yang mempunyai
seruan yang sempurna... Dakwah yang sempurna. Adzan adalah dakwah yang sempurna.
Ketika adzan dikumandangkan semua di seru. Pejabat, penjahat, tukang babat,
ulama, ustadz, pemabuk, pedagang, petani. Bahkan Yahudi dan Kristiani pun
mendengan seruan adzan.
Dalam dakwah pun begitu semua kalangan
didatangi. Tanpa memandang status, pangkat dan jabatan. Ketika buat dakwah ulama
didatangi, penjahat pun didatangi karena itu memang tanggung jawab kita.
Adzan adalah dakwah yang paling sempurna dan
siapa saja boleh mengumandangkan adzan dan semua kalangan diseru, dipanggil
untuk datang kemesjid memenuhi panggilang Allah SWT.
Jadi, tidak harus tamatan pesantren, S1, S2
atau S3 baru boleh buat dakwah. Siapa saja boleh buat dakwah karena tanggung
jawab usaha dakwah ini, tanggung jawab semua orang islam yang ada kalimat “Laa
ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah” didalam hatinya.
Allah SWT berfirman :
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar”, (QS.
Ali 'Imran 110)
Jadi, kita ini sebagai umat akhir zaman adalah
umat dakwah yang di hantar untuk buat dakwah kepada seluruh manusia.
Allah SWT berfirman :
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan
orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang
nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS.
Yusuf 108)
Aku (Nabi SAW) dan orang-orang yang
mengikutiku mengajak kepada Allah. Didalam ayat ini dikatakan kalau kita mengaku
pengikut Nabi SAW harus buat dakwah. Yang dipertanyakan kalau kita tidak buat
dakwah kita ini ummat siapa...?
Ketika adzan dikumandangkan. Seorang anak
kecil telah berkata kepada ayahnya. Wahai ayahku, bagaimana kalau kita shalat
berjamaah dimesjid. Perkataan anak ini pun sudah dinilai dakwah. Karena dakwah
itu “Mengajak”. Jadi, tidak perlu ilmu yang banyak untuk buat dakwah. Satu ayat
saja yang kita ketahui sudah disuruh untuk disampaikan.
Nabi SAW bersabda : “Sampaikanlah dari ku
walaupun hanya satu ayat”. (HR Ahmad, Bukhari, Tarmidzi)
Setiap umat islam yang baligh bahkan anak-anak
pun hafal Al Faatihah. Al Faatihah itu 7 ayat sedangkan yang dikatakan Nabi SAW
: “Sampaikanlah walau satu ayat”. Jadi, paling minimal setiap orang islam sudah
hafal 7 ayat.
Jadi, tidak ada alasan kalau kita tidak buat
dakwah.
Nabi SAW baru faham 5 ayat sudah diperintahkan
buat dakwah. Kita sudah tahu 7 ayat. Jadi, tidak ada alasan kalau kita tidak
buat dakwah.
Abu Bakar baru tahu satu kalimat “Laa ilaaha
illallaah Muhammadur Rasulullah” sudah diperintahkan buat dakwah. Kita sudah
bisa shalat, zikir, doa dsb. Jadi, tidak ada alasan kalau kita tidak buat
dakwah.
Siapa saja boleh mengumandangkan adzan dan ini
adalah dakwah yang sempurna. Kita pun pasti bisa mengumandangkan adzan. Jadi,
tidak ada alasan kalau kita tidak buat dakwah.
Nabi SAW pun bersabda : “Sampaikanlah dari ku
walaupun hanya satu ayat”. Kita sudah hafal puluhan ayat. Jadi, tidak ada alasan
kalau kita tidak buat dakwah.
Didalam surat Yusuf dikatakan kalau kita
mengaku pengikut Nabi SAW harus buat dakwah. Jadi, tidak ada alasan kalau kita
tidak buat dakwah.
Kita sering berpendapat bahwa jika kita tidak
konsekuen dengan ajakan kita dan kita merasa bukan ahlinya, maka tidak
selayaknya kita menasihati orang lain. Ini adalah tipuan yang sangat nyata. Jika
kita menunaikan suatu tugas dan tugas itu adalah perintah Allah SWT, maka kita
tidak boleh mundur sedikit pun. Kita hendaknya memulai kerja dakwah ini dengan
kepahaman bahwa dakwah ini adalah perintah Allah SWT. Insya Allah, usaha dan
kesungguhan yang kita lakukan akan membawa kemajuan, kekuatan, dan istiqamah.
Hendaknya kita kerjakan terus-menerus sehingga kita akan mendapat kedekatan
dengan Allah SWT.
Dari Anas ra. ia berkata, kami bertanya, “Ya
Rasulullah, kami tidak akan menyuruh orang untuk berbuat baik sebelum kami
sendiri mengamalkan semua kebaikan dan kami tidak akan mencegah kemungkaran
sebelum kami meninggalkan semua kemungkaran.” Maka Nabi SAW. bersabda, “Tidak,
bahkan serulah kepada kebaikan meskipun kalian belum mengamalkan semuanya, dan
cegahlah dari kemungkaran, meskipun kalian belum meninggalkan semuanya.” (HR.
Thabrani).
Jadi, tidak ada alasan lagi kalau kita tidak
buat dakwah.
Tanamkanlah didalam hati kita bahwa dakwah ini
perintah Allah SWT sunnah Nabi SAW dan dakwah ini adalah tanggung jawab saya.
Walau pun kita hanya seseorang yang tidak pernah sekolah. Tidak bisa baca dan
tulis. Nabi SAW saja tidak bisa baca dan tulis tetapi tetap buat dakwah.
Jadi, tidak ada alasan lagi kalau kita tidak
buat dakwah.
“Saya tidak ada keberanian, kekuatan untuk
buat dakwah”.
Ini rata-rata penyakit umat islam. Bagaimana
cara mengatasinya...?
Supaya bisa buat dakwah. Solusinya buat “Usaha
Dakwah”
Untuk buat usaha kita perlu waktu. Usaha
perdagangan perlu waktu. Usaha pertanian perlu waktu. Usaha dakwah pun begitu
juga, perlu meluangkan waktu. Tahap pertama luangkan waktu 3 hari untuk usaha
dakwah. Setelah 3 hari belajar usaha dakwah maka kita akan mendapatkan SIM
(Surat Izin Mengajak, Surat Izin Menyampaikan, Surat Izin Mendakwah). Setelah 3
hari, maka kita akan ada kekuatan, keberanian untuk buat dakwah kepada keluarga,
teman dsb.
Jadi, tidak ada alasan lagi kalau kita tidak
buat dakwah.
Subscribe to:
Posts (Atom)